Jelang kelahiran putra pertamaku
Oleh:Sujono said
Sore itu, tepatnya pada hari Selasa tanggal 30 april 2024, penulis beserta isteri meninggalkan rumah kos di Jalan Ruruhi kelurahan Anggoeya menuju Rumah sakit Hati mulia yang beralamit di Lepo-lepo kendari. Ketika penulis berangkat, matahari masih menampakkan sinarnya yang begitu cerah di langit kota Kendari. Namun, setibanya di Rumah sakit Hati mulia sinar mentaripun mulai memerah pertanda ia akan mengucapkan selamat tinggal dan digantikan oleh rembulan malam.
Maksud penulis bertandang ke Rumah sakit Hati mulia sebenarnya adalah memeriksakan kandungan sang isteri sekaligus melakukan USG, lantaran di Rumah sakit Hati mulia ada seorang dokter kandungan yang direkomendasikan oleh salah satu kawan tunanetra. Sesampai di sana, kami melakukan pengambilan nomor di loket. Setelah itu, oleh petugas loket mengantarkan kami di ruang tunggu poli kandungan. Di tengah penantian kami, ternyata sore jelang malam itu kota Kendari diguyur hujan deras. Sesampai di poli kandungan, sang isteri mulai diinterfew oleh salah satu bidan.
Setelah melalui interfew, kami diminta menunggu kedatangan dokter yang baru akan memulai kegiatan prakteknya pada jam 19.30. Kamipun sangat shok, lantaran kami tiba di rumah sakit sekitar jam 17.50, tanpa didampingi oleh relawan dan keluarga, hanya sebuah tongkat putih dan modal doa yang mengantarkan kami ke rumah sakit. Namun, di tengah penantian mendampingi sang isteri penulis tidak pernah merasa cemas, terlebih merasa was-was. Yang ada adalah perasaan optimis bahwa sang isteri akan ready untuk dijemput dan pulang ke Raha keesokan harinya untuk melahirkan.
Akhirnya, setelah dokter kandungan yang akan memeriksa sang isteri tiba kamipun masuk di ruang pemeriksaan. Lantaran nomor kami adalah nomor urut1. Sesampai di dalam, penulis dipersilakan duduk. Sedangkan sang isteri langsung dibaringkan di ranjang pemeriksaan. Penulis dan isteri menanti-nanti apa yang akan menjadi fatwa dari sang dokter untuk kami setelah mengamati hasil USG. Ternyata,berdasar hasil USG bayi yang dikandung oleh sang isteri adalah jeniskelamin laki-laki.
Setelah dilakukan USG, juga dilakukan pemeriksaan luar. Hasil lain dari pemeriksaan USG adalah posisinya masih jauh diatas. Artinya, belum siap untuk dilahirkan. Namun, berdasar pemeriksaan luar pecahnya ketuban lantaran memang sudah memasuki bukaan 1. Artinya, karena ketuban sudah pecah maka bayi sudah harus dilahirkan baik dengan cara normal, ataupun dengan cara secar. Tapi, bayi harus melalui proses pematangan paru-paru dengan4 kali suntikan. Setelah USG dan pemeriksaan luar maka BPJS sang isteri dicek melalui layar komputer. Dan ternyata, BPJSnya aktif.
Akhirnya, kamipun diminta untuk rawat inap. Lantaran BPJS aktif dan itu adalah dari pemerintah, maka sang isteri dibebaskan dari biaya rumah sakit. Sehingga, kami tidak membayar biaya sepeserpun. Sebagai suami, penulis sebenarnya bisa saja menggunakan haknya untuk mengambil keputusan dan menetapkan untuk rawat inap. Namun, penulis amat menghargai ayah mertua.
Tapi, penulis mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada ayah mertua. Kepada sang isteri, ayah mertua hanya bilang “kalau itu keputusan dokter, ikutilah.” “begini pa saya juga mau mengikuti permintaan dokter. Tapi, alangkah bagusnya dan lebih arif kalau saya bicara dulu sama bapak. Betul, saya suaminya. Tapi tidak boleh sertamerta memutuskan begitu.” Ujar penulis pada ayah mertua kala itu. Akhirnya, ayah mertua kembali bergegas ke pelabuhan Raha untuk menyampaikan ke mama agar tidak perlu ke Anggoeya, langsung saja ke rumah sakit hati mulia setiba di Kendari.
Akhirnya, malam itu penulis dan isteri menginap di rumah sakit. Saat itu, hujan deras melanda kota kendari sementara penulis hanya berdua dengan isteri. Tidak mungkin pulang ke rumah mengambil kelengkapan jelang melahirkan, tapi untunglah ada salah satu keluarga yang dengan sabar datang ke rumah sakit menerobos hujan yang amat deras. Dan sang keluarga inilah yang datang ke Anggoeya mengambil sarung dan, baju-baju untuk isteri. Subuh hari keesokannya, mama mertuapun tiba di rumah sakit Hati mulia. Setelah mama tiba, perjuanganpun dimulai.
Prosedur demi prosedur dilaksanakan mulai dari pemeriksaan denyut jantung bayi secara berkala hingga disuntikkanya obat untuk mematangkan paru-paru sang bayi agar lebih siap untuk lahir. Saat itu, penulis tak lupa menghubungi keluarga dari pihak penulis seperti adik, om, dan tante.
Sore hari pada hari rabu tanggal 1 mei 2024, keluarga dari Raha dan ayah mertuapun tiba di rumah sakit Hati mulia. Sejak itu, penulis dan isteri mulai didampingi oleh mama dan papa mertua jelang kelahiran anak pertama kami. Selain dijenguk oleh keluarga, ada juga teman baik penulis sejak di Yapti sampai hari ini yang datang menjenguk dan membawa makanan di rumah sakit.
Selama kami di rumah sakit, penulis dan isteri yang sama-sama seorang tunanetra merasakan keramahan para bidan dan perawat dalam memberikan pelayanan mulai dari masuk sampai selesai melahirkan. Bahkan, penulis dan isteri sering sekali mendengar decak kagum dari mereka. Bahkan, ada salah satu bidan yang tidak mampu menyembunyikan kekagumannya kepada kami dengan cara bertanya langsung kepada mama mertua yang menunggui sang isteri di ruang bersalin saat isteri sudah menjalani proses induksi tahap 1. “Ibu! Yang manaka anaknya ibu apakah yang mau melahirkan atau suaminya?” Ujar salah satu bidan kepada mama mertua. “Yang mau melahirkan” jawab mama. “Tapi, jujurbu kemarin saya kagum liat mereka walaupun sama-sama tunanetra mereka datang ber2 naik maksim tanpa didampingi oleh keluarga.” Ujar sang bidan kepada mama mertua sore, itu.
Komentar
Posting Komentar