Postingan

Sumpah pemuda dalam perspektif pendidikan inklusi

Gambar
Disusun oleh: Faharuddin, S.Sos. ABSTRAK Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Artikel ini berargumen bahwa nilai persatuan tersebut dapat menjadi landasan etis pendidikan inklusi apabila persatuan dipahami sebagai keanggotaan yang setara dalam bangsa, tanpa menuntut keseragaman. Pendidikan inklusi diartikan sebagai hak setiap peserta didik, termasuk penyandang disabilitas, atas akses, partisipasi, dan akomodasi yang layak. Metode yang digunakan adalah studi pustaka deskriptif-analitis terhadap sumber sejarah resmi, peraturan perundang-undangan nasional, dan instrumen internasional tentang hak pendidikan penyandang disabilitas. Hasil kajian memetakan tiga ikrar pada tiga prinsip inklusi: tanah air pada aksesibilitas ruang belajar, bangsa pada keanggotaan tanpa diskriminasi, dan bahasa persatuan pada komunikasi yang dapat diakses. Teks Sumpah Pemuda tidak membahas pendidikan inklusi. Hubungan keduanya bersifat analogis dan nor...

Gelas beralas masuk ruang kelas

Gambar
Oleh:Sujono said 12 Tahun yang lalu, ketika baru meniti karier sebagai guru penulis baru menyelesaikan studi strata1. Sehingga, penulis masuk sebagai guru dengan status bujang. Kalau status di lembaga, ya guru tetap yayasan (GTY) bukan KYT😊. Walaupun penulis memiliki jabatan melekat sebagai guru, tapi penulis tetaplah seorang anak muda yang agak risih mendapatkan serfice excelence dari siswa. Apa itu bentuk serfice excelence yang penulis peroleh? Yaitu, ketika penulis mengajar dan belum sempat minum kopi di rumah, penulis minta dibuatkan oleh siswa. Tapi, penulis minta agar gelas tak usah dialas. Mengapa demikian? Karena, penulis merasa masih anak muda alias bujang kala itu. Sementara, siswa yang penulis ajar seumuran bahkan lebih tua dari penulis. Itulah uniknya SLB, terlebih siswa yang penulis ajar adalah tunanetra yang rata-rata sudah dewasa baru bersekolah karena baru berkesempatan keluar rumah. Apakah kini masih menerima siswa tunanetra sebagaimana penulis jelaskan diatas?. It...

Cerita dari mushalla husnul khatimah SMUN4 makassar

Gambar
Oleh:Sujono said Kala itu, penulis baru nyaris 2 bulan berseragam putih abu-abu di SMUN 4 Makassar. Namun, momen yang penulis alami adalah rangkaian dari momen sebelumnya. Tepatnya, ketika penulis menjadi the secon winner dalam lomba da’i antar siswa se SMUN4 Makassar. Hingga suatu sore, penulis mengikuti pengajian di Mushallah Husnul khatimah.  Hingga akhirnya, ada satu kejadian. Saat itu, sang ustadz yang akan mengisi pengajian masuk ke dalam Mushallah. Kemudian, menyalami penulis seraya berujar “Kamu entar nggantiin saya ya”. Penulis pun shok, dan saat beliau membuka pengajian sampai selesai beliau sering manggil penulis ustadz Sujono. Penulis sampai menyimpan tanya. Akhirnya, penulis bertanya tentang siapa beliau, salah seorang kakak kelas menjelaskan beliau namanya ustadz samat. Tepatnya, Ustadz abdul samat salah satu guru agama. Beliau memang menurut penulis bagus dalam menyampaikan ceramah, sehingga penulis banyak mengambil ibrah dari beliau. Terkadang, pengajian dilaksan...

Ada yang terasa kering

Gambar
Oleh:Sujono said Ketika penulis telah bersekolah di sekolah umum, berarti penulis tidak lagi di SLB eh salah😊. Maksudnya penulis sudah mengalami kondisi yang berbeda. Karena, ketika kita telah bersekolah di sekolah umum, maka penulis sudah tak punya waktu santai. Kita, sudah harus berjibaku dengan tugas. Mulai dari rekam buku, kerja Tugas, isi LKS, dan masih banyak lagi lainnya. Tidur siang hanya di saat lagi tidak ada tugas yang harus kita kerjakan atau tugas bisa dipending. Seperti, buku yang telah siap. Namun, dibalik semua itu. Rasanya, ada yang kering bagi penulis. Apaantu? Kering dari sisi spiritual. Sehingga, kadang kalau malam jumat penulis shalat magrib dan isya di salah satu masjid namanya masjid al-ijabah. Buat apa? Kan di Yapti juga ada Mushallah. Karena, penulis pengen refreshing. Ah! Boong lu jon. Mau makan ice creem gratis kali lu hayu ngaku?). Ya! Itu, salah satunya. Tapi, ada yang juga penting. Rasanya, penulis capek kalau lelah hanya untuk bisa bersanding dengan s...

Dari mana datangnya nilai islam yang berdampak pada hidup dan kehidupanku kini?

Gambar
Oleh:Sujono said Secara sosiologis, pembentukan keperibadian termasuk penanaman nilai dalam hal ini nilai islam (Islamik falue) tentu berawal dari keluarga. Itulah sebabnya, ibu dan ayah dijuluki sebagai madrasatul uwla. Pembentukan keperibadian terdiri atas imitasi yaitu meniru, sosialisasi dalam hal ini terjadi proses pembentukan keperibadian, dan bersiap menerima norma. Tapi, kita tidak akan membahas ini lebih dalam. Penulis, hanya mengawali tulisan ini sebagai pembuka. Syukur al-hamdulillah, karena penulis terlahir dari keluarga yang taat agama. Mulai dari Kakek dan nenek, om dan tante, hingga papa dan mama yang relegious. Ketika penulis berada di rumah Dato’ Ti’no’, penulis sering ikut beliau ke Masjid. Ketika berada di rumah bersama mama dan papa, penulis ikut beliau ber2 melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan, mama mengajarkan penulis bacaan shalat. Dari ilustrasi ini, penulis melewati proses imitasi yaitu menirukan gerakan shalat yang penulis bisa tiru sebagai tunanetra, kemu...

Mengenang kebersamaan dengan KH Muhammad na'im

Gambar
Oleh:Sujono said Siapa yang tidak kenal dengan Kiyai Haji DRS Muhammad na’im? Bagi masyarakat umum, utamanya yang hidup di era 90han. Beliau adalah seorang ulama karismatik. Selain menjadi dai, ia memulai karier sebagai perwira polisi. Sedangkan di kalangan tunanetra, beliau dikenal sebagai ketua yayasan Pendidikan tunanetra Islam yang berubah nama menjadi yayasan pendidikan tunanetra Indonesia dan terakhir menjadi yayasan pembinaan tunanetra Indonesia(YAPTI) sejak 1986 hingga 2006. Kalau teman-teman Yapti, utamanya yang telah lama berkecimpung, sudah mengenal beliau. Sedangkan penulis, baru mengikuti beliau sejak tahun 2003, kala itu ia mengajak para binaan mengikuti shalat jumat keliling. Dimanapun beliau mengisi khutbah jumat, kamipun pasti diikutkan. Pertama kali penulis diajak, kala itu oleh kepala panti guna yaitu pak Ishak BS, penulis agak shok karena penulis langsung diajak. Terlebih, ketika pak Ishak bersama penulis dan beberapa binaan menjemput beliau di rumahnya yang beral...

Karier dan nilai-nilai islami

Gambar
Oleh:Sujono said Ketika penulis sudah terangkat sebagai guru kurang lebih 12 tahun lalu, hal itu tidak membuat penulis lalai dalam melaksanakan perintah Allah. Terlebih, penulis menganggap hal tersebut sebagai anugerah darinya. Hanya memang, penulis melakukan shalat berjamaah di masjid pada waktu magrib dan isya saja di masjid salsabil mangga 3. Tapi, kalau penulis kecapean dari mengajar shalatnya di rumah dong. Karena, terkadang penulis berada di tempat mengajar sampai sore. Karena, kadang ada kegiatan tambahan. Terkadang pula, ada hal lain. Tapi, kadang juga penulis pulang ke rumah pada siang hari. Tapi, alhamdulillah. Karena, di tempat mengajar penulis ada asrama jadi terkadang tidur siang dulu baru pulang ke rumah. Ibadah pun, alhamdulillah tidak terabaikan. Bahkan, ketika penulis shalat berjamaah di masjid. Penulis rasanya sama dengan jamaah lainnya. Nanti di sekolah, baru penulis merasa sebagai guru. Jadi, yang mengenal penulis sebagai guru hanya tetangga dekat saja. Kecuali,...