Tragedi 15 nofember 2021 dan jawaban dari langit

Oleh:Sujono said

Hari itu, adalah hari yang tidak akan penulis lupa. Dimana, pada hari itu terjadi kedzoliman yang menimpa salah satu organ lembaga yang dilakukan oleh pimpinan secara sewenang-wenang.
Jadi, kronologinya adalah seperti ini secara kebetulan ada seorang siswa di asrama putri telah berusaha mengamankan alat komunikasi di lemari. Karena, menurut hemat sang pemilik alat komunikasi ini, tidak akan mungkin dijangkau oleh siswa asrama putri yang lain yang sering menjadi pengguna alat komunikasi tersebut, untuk menelephone laki-laki di tempat lain. Hal ini, berdasar instruksi pimpinan yang juga merangkap sebagai pimpinan asrama yang berbunyi “Jangan berikan handphone kalian kepada siswa yang namanya Andin nama samaran, karena kalau ada diantara kalian yang memfasilitasi andin berkomunikasi dengan cowoknya maka yang bersangkutan akan mendapat sangsi”. Begitulah bunyi instruksi pimpinan yang juga merupakan pimpinan asrama.
Walau upaya pengamanan telah dilakukan sekuat dan semampu empunya alat komunikasi, sebagai anak yang licik Andin tetap mengakses alat komunikasi tersebut lantaran lemari yang digunakan oleh empunya alat komunikasi kuncinya sudah rusak. Ketika masalah ini dikonsultasikan, pimpinan tetap menyalahkan empunya alat komunikasi. Maka, disitulah kemarahan penulis mulai membuncah. Hingga akhirnya, penulispun berdebat sengit dengan pimpinan pagi itu di asrama putra.
Pada tanggal 15 sore, setelah shalat ashar tetiba terjadi hujan deras. Saat itu penulis berdoa dengan doa sebagai berikut “Ya rab, jika engkau tetap menghendaki saya berkarya di sini kuatkanlah saya untuk menyaksikan kedzoliman demi kedzoliman. Namun, jika engkau ingin menyelamatkan saya maka mudahkanlah saya pindah dari sini”. Setelah pulang dari masjid, penulis mendengar kabar bahwa penulis akan didepak dari tempat mengajar penulis, dan dipastikan tidak akan diterima di tempat lain.
Secara kodrati, penulis takutlah ya. Namun, penulis tetap berusaha menjalani hari-hari walau dilanda kepanikan yang teramat sangat. Setelah kurang lebih satu atau 2 minggu penulis tidak terjalin komunikasi dengan pimpinan, maka kondisipun kembali membaik dan wacana tersebut tidaklah terlaksana. Setelah menikmati euforia, maka penulis akhirnya melakukan kontemplasi dan tibalah akhirnya pada sebuah kesimpulan bahwa penulis sudah harus memutuskan untuk pindah.
Sejak keputusan hingga proses demi proses yang al-hamdulillah mudah, membuat penulis tersadar bahwa itu adalah jawaban dari langit ketika penulis memanjatkan doa di tengah derasnya hujan. Lantaran memang, doa yang mustajab adalah salah satunya ketika turun hujan deras.
Kira-kira, seminggu pasca tragedi ini penulis mendapat kabar bahwa ayahanda penulis terserang struk di kampung. Semakin gundahlah hati ini. Namun, ada salah seorang rekan kerja penulis yang selalu menguatkan diri ini. Namun, sebulan kemudian penulis berangkat ke selayar untuk berlibur.
Lantaran saat itu adalah libur semester ganjil, natal, dan tahun baru. Maka, penulis pun menggunakan momen tersebut untuk berlibur sekalian mendampingi dan merawat ayahanda yang sudah mulai sakit parah. Yang aneh bagi penulis, padahal penulis semalam sebelumnya masih sempat berbicara dengan salah satu tante di Makassar. Ternyata, sang tante ini bersama salah satu tante yang lain berkunjung ke sekolah tempat penulis mengajar, entah apa maksud kunjungan mereka ke sana.
Mengetahui hal tersebut, akhirnya penulis makin merasa it’s time to hijrah, daripada penulis diganggu dari luar dan dalam. Selama penulis di selayar merawat ayahanda sambil mengajar secara daring selama sebulan, penulis mengkomunikasikan keputusan yang maha pahit ini kepada ayah dan kedua adik penulis. Sehingga, walau penulis berat hati namun harus memutuskan untuk hijrah.
Di tengah cobaan berat ini, akhirnya penulis pun mengurus kepindahan ke kota Kendari yang menurut hemat penulis masih tanda tanya. Namun, tim sukses ini, selalu meyakinkan kepada penulis bahwa semua akan baik-baik saja dan,  penulis tetap mendapat tempat untuk mengajar.
Akhirnya, setelah sebulan mengajar daring karena harus merawat sang ayah, maka penulispun harus tinggal di kampung selama sebulan. Setelah itu, maka penulis pun kembali ke Makassar untuk mengajar secara luring sambil mematangkaan urusan kepindahan penulis, baik dalam komunikasi maupun administrasi. Namun, pada tanggal 19 maret 2022, penulis harus kembali ke Selayar, lantaran papa terkena serangan lanjutan dan dirawat di Icu. Kebetulan, momennya adalah 2minggu sebelum ramadhan. Sehingga, penulis lagi dan lagi harus stay di Selayar hingga idulfitri usai. Setelah idulfitri usai, penulispun kembali ke Makassar untuk kembali mengurus kepindahan penulis secara serius.
Itulah yang namanya isyarat, bahwa apa yang menjadi keinginan penulis sejak lama isyaratnya telah diturunkan oleh Allah. Walaupun, lagi-lagi kita harus mengurus lengkap dengan drama turkinya😊. Setelah berkontemplasi, penulis meyakini bahwa hijrah ke provinsi lain, atau hijrah ke tempat yang suasananya ndeso seperti yang penulis ingini selaras dengan kehendak Allah terwujud sudah. Walaupun, tentu harus melalui jalan nan terjal dan berliku. Apapun jalannya, tapi sebuah mimpi telah terwujud. Sehingga, semua itu tentu patutlah kita syukuri sebagai karunia tuhan. Itulah yang penulis sempat torehkan, semua ini tanpa motif kebencian melainkan hanya ingin menyajikan,  fakta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup