Tegak lurus saja takcukup
Oleh:Sujono said
Dalam kehidupan bermasyarakat, tujuan berpolitik adalah untuk memperoleh kekuasaan, memperkaya diri, memperoleh popularitas, dan bertahan saat dalam situasi sulit. Dalam politik dunia kerja, tujuan berpolitik adalah untuk memperoleh karier yang cemerlang, serta bertahan agar kita tidak terpaksa meninggalkan perusahaan, serta resiko-resiko berbahaya yang harus diterima.
Memang, kejujuran itu penting, etitude itu penting, skill itu penting, integritas serta loyalitas itu so pasti penting. Tetapi, jika kita tidak tahu intrik dan manufer, mulai dari manufer cantik sampai dengan manufer kotor, maka anda akan tamat. Yakinlah! Mulai dari karier, nama baik, hingga nyawa akan melayang secara tragis. Walau demikian, tetaplah kedepankan kejujuran, gunakan skill, serta tetaplah berintegritas dan memiliki loyalitas kepada pimpinan serta solid kepada rekan kerja.
Karena, agama mengajarkan taatilah Allah dan rasul serta taatilah pemimpin kalian. Lalu? Bagaimana dengan pemimpin yang lalim? Tentu kita tetap mengingatkan, tapi kalau kita tidak berdaya maka doa adalah selemah-lemahnya iman. Pun juga, agama mengajarkan kita untuk setia kawan, sebagaimana agama mengajarkan bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar kita tidak hanya saling mengenal, tapi juga saling memahami satu dan lainnya.
Sebagaimana bunda teresa mengatakan “some people came to your life is a blazing and some people came to your life is a lesson”. Yang artinya, kurang lebih tuhan mendatangkan beberapa orang dalam kehidupanmu sebagai rahmat atau berkat, dan beberapa orang lagi sebagai pelajaran atau ibrah. So, ketika anda punya etitude, maka bos dan sesama karyawan akan senang pada kita.
Ketika kita punya skil, maka kita akan produktif di perusahaan atau tempat kerja. Terlebih, ketika kita memiliki multi talenta atau memiliki banyak kemampuan. Ketika kita menanamkan kejujuran, maka kita akan memperoleh hasil kerja yang bukan hanya menguntungkan anda secara profesi, tapi hasil yang anda tuai akan bertabur berkah dan hidup akan lebih damai. Ketika kita punya skil, dan loyal kepada pimpinan, maka tidak akan menutup kemungkinan anda akan dipromosikan untuk jenjang yang lebih tinggi. Dan ketika anda memiliki solidarity kepada rekan sejawat, maka kita akan lebih mudah untuk melakukan kerja-kerja kolektif atau tim work. So, tetaplah genggam semua yang penulis jelaskan diatas. Tapi, ingat ketika anda punya skil, punya etitude, dan segala yang membuat anda produktif, tentu anda akan berhadapan dengan orang-orang yang mulai dari kurang suka hingga tidak suka pada keberadaan anda. Lalu, bagaimana anda harus menyikapinya?.
Nah! Disinilah pentingnya anda tahu intrik dan manufer. Apakah anda harus menggunakannya? Tentu tidak. Anda harus tetap menjadi diri anda. Diri anda yang punya etitude, diri anda yang punya skill, loyalitas pada pimpinan, integritas pada prinsip anda, serta setia kepada rekan sejawat. Karena, biasanya orang yang tidak suka adalah orang yang kemampuannya jauh dibawah kita.
Yang ia lakukan untuk menjatuhkan anda adalah membuat narasi sesat kepada rekan sejawat, hingga kepada pimpinan. Maka dari itu, sebisa mungkin, anda harus menutup cela bagi mereka agar anda tidak segampang itu dibangunkan narasi-narasi negatif. Namun, kita tetaplah manusia yang punya kelemahan. Sehingga, kelemahan kita harus kita tutupi.
Maka dari itu, izinkan penulis berbagi mengenai pengalaman baik dan buruk terkait politik dunia kerja. Sekitar 11 tahun yang lalu, penulis memulai karier sebagai guru di Makassar, tepatnya di salah satu SLB di Tamangngapa Antang. Penulis masuk dengan modal integrity dan hobby mengajar.
Dengan modal tersebut, penulis disenangi mulai dari siswa, kepala sekolah, hingga ketua yayasan dan sebahagian rekan sejawat. Namun, setahun berlalu, karena ada rekan kerja yang entah kecewa pada pimpinan tertinggi, entah memang secara watak ia adalah toksik atau racun lembaga😊 hehe. Akhirnya, penulis mulai merasa terganggu. Karena, yang, bersangkutan sering membuat gaduh.
Kegaduhan yang dibuat, mulai dari dibuatkannya penulis cerita bahwa penulis adalah orang dekat yayasan,hingga pernyataan-pernyataan lain yang seringkali membuat segalanya kacau balau. Belum lagi, seringnya yang bersangkutan melakukan sweeping setiap kami dibagikan gaji dari kepala sekolah. Setelah disweeping satu demi satu, dibuatlah narasi-narasi liar di SLB lain tentang sekolah kami yang dinarasikan bobrok. Namun, kita tentu mengenal sebuah teori yang disebut dengan hukum tabur tuai. Artinya, apa yang anda tabur itupulalah yang akan anda tuai kelak. Akibatnya, iapun menuai apa yang ia tabur. Karena, kelicikan yang ia lakukan dibongkar oleh salah satu kawan lain yang juga penulis sebut sebagai toksik lembaga atau racun lembaga. Yangmana, kawan satu ini selalu menggunakan teori cari aman. Artinya, ketika di kubu sebelah ia menjelekkan kubu sebelah dan begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya, yang bersangkutan hengkang ke tempat lain.
Lain lagi halnya, kawan si tukang cari aman, lantaran penulis banyak disenangi oleh siswa, sehingga yang bersangkutan sering membuat cerita kepada siswa dan guru lain bahwa penulis selalu mau sok berkuasa😊. Namun, secara kualitas cara mengajarnya di kelas hanya menyuru siswa duduk manis dan yang bersangkutan main handphone. Setelah ujian smester selesai menurut jadwal, ia mengajar siswa berbohong. Adapun materinya adalah sebagai berikut “Eh! Kalau ditanya sama kepala sekolah sudah ujian jawab sudah ya!”. Dari 2 potret yang penulis sajikan, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa orang yang kualitasnya rendah hanya mampu bermain drama.
Oleh:Sujono said
Dalam kehidupan bermasyarakat, tujuan berpolitik adalah untuk memperoleh kekuasaan, memperkaya diri, memperoleh popularitas, dan bertahan saat dalam situasi sulit. Dalam politik dunia kerja, tujuan berpolitik adalah untuk memperoleh karier yang cemerlang, serta bertahan agar kita tidak terpaksa meninggalkan perusahaan, serta resiko-resiko berbahaya yang harus diterima.
Memang, kejujuran itu penting, etitude itu penting, skill itu penting, integritas serta loyalitas itu so pasti penting. Tetapi, jika kita tidak tahu intrik dan manufer, mulai dari manufer cantik sampai dengan manufer kotor, maka anda akan tamat. Yakinlah! Mulai dari karier, nama baik, hingga nyawa akan melayang secara tragis. Walau demikian, tetaplah kedepankan kejujuran, gunakan skill, serta tetaplah berintegritas dan memiliki loyalitas kepada pimpinan serta solid kepada rekan kerja.
Karena, agama mengajarkan taatilah Allah dan rasul serta taatilah pemimpin kalian. Lalu? Bagaimana dengan pemimpin yang lalim? Tentu kita tetap mengingatkan, tapi kalau kita tidak berdaya maka doa adalah selemah-lemahnya iman. Pun juga, agama mengajarkan kita untuk setia kawan, sebagaimana agama mengajarkan bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar kita tidak hanya saling mengenal, tapi juga saling memahami satu dan lainnya.
Sebagaimana bunda teresa mengatakan “some people came to your life is a blazing and some people came to your life is a lesson”. Yang artinya, kurang lebih tuhan mendatangkan beberapa orang dalam kehidupanmu sebagai rahmat atau berkat, dan beberapa orang lagi sebagai pelajaran atau ibrah. So, ketika anda punya etitude, maka bos dan sesama karyawan akan senang pada kita.
Ketika kita punya skil, maka kita akan produktif di perusahaan atau tempat kerja. Terlebih, ketika kita memiliki multi talenta atau memiliki banyak kemampuan. Ketika kita menanamkan kejujuran, maka kita akan memperoleh hasil kerja yang bukan hanya menguntungkan anda secara profesi, tapi hasil yang anda tuai akan bertabur berkah dan hidup akan lebih damai. Ketika kita punya skil, dan loyal kepada pimpinan, maka tidak akan menutup kemungkinan anda akan dipromosikan untuk jenjang yang lebih tinggi. Dan ketika anda memiliki solidarity kepada rekan sejawat, maka kita akan lebih mudah untuk melakukan kerja-kerja kolektif atau tim work. So, tetaplah genggam, semua yang penulis jelaskan diatas. Tapi, ingat ketika anda punya skil, punya etitude, dan segala yang membuat anda produktif, tentu anda akan berhadapan dengan orang-orang yang mulai dari kurang suka hingga tidak suka pada keberadaan anda. Lalu, bagaimana anda harus menyikapinya?.
Nah! Disinilah pentingnya anda tahu intrik dan manufer. Apakah anda harus menggunakannya? Tentu tidak. Anda harus tetap menjadi diri anda. Diri anda yang punya etitude, diri anda yang punya skill, loyalitas pada pimpinan, integritas pada prinsip anda, serta setia kepada rekan sejawat. Karena, biasanya orang yang tidak suka adalah orang yang kemampuannya jauh dibawah kita.
Yang ia lakukan untuk menjatuhkan anda adalah membuat narasi sesat kepada rekan sejawat, hingga kepada pimpinan. Maka dari itu, sebisa mungkin, anda harus menutup cela bagi mereka agar anda tidak segampang itu dibangunkan narasi-narasi negatif. Namun, kita tetaplah manusia yang punya kelemahan. Sehingga, kelemahan kita harus kita tutupi.
Maka dari itu, izinkan penulis berbagi mengenai pengalaman baik dan buruk terkait politik dunia kerja. Sekitar 11 tahun yang lalu, penulis memulai karier sebagai guru di Makassar, tepatnya di salah satu SLB di Tamangngapa Antang. Penulis masuk dengan modal integrity dan hobby mengajar.
Dengan modal tersebut, penulis disenangi mulai dari siswa, kepala sekolah, hingga ketua yayasan dan sebahagian rekan sejawat. Namun, setahun berlalu, karena ada rekan kerja yang entah kecewa pada pimpinan tertinggi, entah memang secara watak ia adalah toksik atau racun lembaga😊 hehe. Akhirnya, penulis mulai merasa terganggu. Karena, yang bersangkutan sering membuat gaduh.
Kegaduhan yang dibuat, mulai dari dibuatkannya penulis cerita bahwa penulis adalah orang dekat yayasan,hingga pernyataan-pernyataan lain yang seringkali membuat segalanya kacau balau. Belum lagi, seringnya yang bersangkutan melakukan sweeping setiap kami dibagikan gaji dari kepala sekolah. Setelah disweeping satu demi satu, dibuatlah narasi-narasi liar di SLB lain tentang sekolah kami yang dinarasikan bobrok. Namun, kita tentu mengenal sebuah teori yang disebut dengan hukum tabur tuai. Artinya, apa yang anda tabur itupulalah yang akan anda tuai kelak. Akibatnya, iapun menuai apa yang ia tabur. Karena, kelicikan yang ia lakukan dibongkar oleh salah satu kawan lain yang juga penulis sebut sebagai toksik lembaga atau racun lembaga. Yangmana, kawan satu ini selalu menggunakan teori cari aman. Artinya, ketika di kubu sebelah ia menjelekkan kubu sebelah dan begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya, yang bersangkutan hengkang ke tempat lain.
Lain lagi halnya, kawan si tukang cari aman, lantaran penulis banyak disenangi oleh siswa, sehingga yang bersangkutan sering membuat cerita kepada siswa dan guru lain bahwa penulis selalu mau sok berkuasa😊. Namun, secara kualitas cara mengajarnya di kelas hanya menyuru siswa duduk manis dan yang bersangkutan main handphone. Setelah ujian smester selesai menurut jadwal, ia mengajar siswa berbohong. Adapun materinya adalah sebagai berikut “Eh! Kalau ditanya sama kepala sekolah sudah ujian jawab sudah ya!”. Dari 2 potret yang penulis sajikan, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa orang yang kualitasnya rendah hanya mampu bermain, drama.
Komentar
Posting Komentar