Ketika berada di fase itu

Oleh:Sujono said

Setelah kurang lebih 2 bulan perkawinan penulis dengan isteri tercinta, tepatnya pada tanggal 28 september 2023 isteri penulis mengalami ngidam berat sebagai pertanda bahwa ia telah mengandung calon bayi yang telah Allah titipkan untuk kami. Saat itu, baik penulis maupun isteri merasakan hal yang sama, yaitu perasaan bersyukur lantaran selang 2bulan usia pernikahan kami Allah telah titipkan calon bayi di rahim sang isteri. Padahal, sebelumnya penulis pernah bilang begini pas sebulan pasca perkawinan. “Semoga, janganmi hamil duludech” ujar penulis kepada sang isteri.
Mendengar hal tersebut, sang isteri bilang begini “Kalau saya hamil bagaimana kak?”. “Kalau kamu hamil, berarti al-hamdulillah. Karena, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh tuhan” ujar penulis. Maksud penulis berujar demikian sebagaimana diatas, lantaran kami baru menata perekonomian kami setelah menikah. Mengapa? Lantaran sebelum menikah, keuangan diatur masing-masing, secara kan ada yang tinggal dengan mama ada pula yang tinggal di rujab sekolah.
Saat itu, beragam ujian datang. Termasuk, bagaimana menghadapi situasi ketika isteri sering uring-uringan sebagai efek dari ngidam berat yang dialaminya. Di satu sisi, sang isteri agak sedih juga lantaran kondisinya yang takmemungkinkan melayani penulis sebagai suami. Namun, itulah proses yang harus kami terima. Saat itu, bagi kami fase ini adalah fase yang amat berat, namun harus dilalui.
Namun banyak hikmah yang penulis petik selama mendampingi isteri yang mengalami ngidam berat. Salah satunya, menemukan dan menjelajahi kedai yang ada di sekitar kosan tempat kami tinggal hingga saat tulisan ini disusun. Mengapa? Lantaran sang isteri tercinta selalu ingin makan makanan favorit nya. Mulai dari buah kedondong, jambu air, hingga ikan lure, begitulah yang namanya ngidam.
Ujian lain, adalah ketika penulis harus sering absen mengajar. Lantaran harus mendampingi isteri yang tengah hamil muda. Namun, yang lebih berat adalah ketika sang isteri harus pulang ke rumah mertua di Raha, lantaran penulis takmungkin bisa memberikan pendampingan secara full.
Ketika genap sepekan di Raha, sang isteri mengirimkan kabar lewat media perpesanan whats app bahwa usia kandungannya sudah hampir 2bulan. Penulis senang mendengarnya, tapi penulis lebih senang lagi ketika ia akan kembali ke Kendari. Namun, sesampai di Kendari, ngidam beratnya semakin bertambah parah. Hingga akhirnya, penulis sendirilah yang mengantarkan sang isteri ke raha. Dan itu, adalah kali ke 2 penulis ke Raha. Setelah sepekan di Raha, penulis dengan berat hati harus kembali ke Kendari tanpa bersama dengan isteri untuk melaksanakan hobby sebagai guru.
Walau demikian, semua ini harus dijalani lantaran ini adalah demi kebaikan penulis, sang isteri, dan calon bayi yang dikandungnya. Hari-hari penulis tanpa keberadaan sang isteri rasanya sangat sepi, terlebih ketika penulis bangun tidur di sore hari. Untunglah, ada youtube dan portal berita online yang menetralisir perasaan sepi yang penulis alami selama menjalani kesendirian tanpa dampingan isteri.
Setelah genap sebulan, secara kebetulan adalah libur smester1. Akhirnya, penulis berlibur di Raha sekaligus melepas rindu dengan isteri yang tengah hamil. Setelah masa liburan usai, penulis dan isteri kembali ke Kendari. Lantaran usia kandungannya yang sudah genap 4 bulan dan kondisinya sudah stabil kembalilah yang membuat sang isteri memutuskan ikut kembali ke Kendari untuk mendampingi penulis dan menjalani hari-hari seperti biasa. Sesampai di Kendari, penulis membawa isteri ke Posyandu untuk memeriksakan kandungannya yang saat itu telah berusia 6bulan.
Setelah 2 kali penulis memeriksakan kandungan sang isteri penulis dan isteri harus kembali ke Raha untuk melaksanakan acara 7 bulanan yang dilakukan sesuai tradisi dan adat istiadat muna. Alhamdulillah, ditengah kehamilan sang isteri secara logika kita takpunya uang kecuali buat makan. Namun, Allah lewat kuasanya menurunkan rezki lewat anak kami dengan,  jalan yang tak disangka-sangka hingga akhirnya acara 7 bulanan calon bayi kami dapat terlaksana dengan lancar tanpa kendala.
Setelah Kasambu atau acara 7 bulanan usai, penulis membawa sang isteri kembali ke Kendari, dengan perjanjian bahwa hanya 2 pekan ia di Kendari, lantaran ia telah dipersiapkan untuk melaksanakan persalinan di Raha dibawah dampingan bidan keluarga. Namun, Allah berkehendak lain.
Sesampai di Kendari, akhirnya isteri mengeluh keluar cairan dari rahimnya, penulispun memanggil sepupu dan tetangga untuk membawa sang isteri ke rumah sakit. Pertama, kami membawa sang isteri ke Puskesmas, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa cairan yang keluar adalah ketuban. Namun, waktu melahirkannya masih jauh. Namun, setiba di Rumah sakit dokter menyatakan bahwa yang keluar dari rahim sang isteri hanyalah cairan biasa. Namun, penulis disuru membawa sang isteri ke rumah sakit tersebut pada keesokan harinya jika ketuban tak kunjung berhenti keluar.
Namun, lantaran ketuban tak kunjung berhenti keluar, penulis berinisiatif membawa sang isteri untuk memeriksakan kandungan di salah satu rumah sakit bersalin sekaligus melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak kami dan menindaklanjuti keluhan sang isteri.
Harapan, setelah memeriksakan dan melakukan USG, sang isteri dapat dijemput oleh mama mertua untuk melahirkan di Raha. Namun, lagi dan lagi Allah berkehendak lain. Setelah melewati proses USG, jenis kelamin anak kamipun telah kami ketahui. Namun, dokter menyarankan kami untuk tinggal di rumah sakit bersalin tersebut lantaran ternyata sudah bukaan 1. Secara logika, kami sebenarnya tidak siap. Namun, ternyata atas kuasa Allah, setelah dicek BPJS nya aktif.

Oleh:Sujono said

Setelah kurang lebih 2 bulan perkawinan penulis dengan isteri tercinta, tepatnya pada tanggal 28 september 2023 isteri penulis mengalami ngidam berat sebagai pertanda bahwa ia telah mengandung calon bayi yang telah Allah titipkan untuk kami. Saat itu, baik penulis maupun isteri merasakan hal yang sama, yaitu perasaan bersyukur lantaran selang 2bulan usia pernikahan kami Allah telah titipkan calon bayi di rahim sang isteri. Padahal, sebelumnya penulis pernah bilang begini pas sebulan pasca perkawinan. “Semoga, janganmi hamil duludech” ujar penulis kepada sang isteri.
Mendengar hal tersebut, sang isteri bilang begini “Kalau saya hamil bagaimana kak?”. “Kalau kamu hamil, berarti al-hamdulillah. Karena, rezeki setiap manusia sudah diatur oleh tuhan” ujar penulis. Maksud penulis berujar demikian sebagaimana diatas, lantaran kami baru menata perekonomian kami setelah menikah. Mengapa? Lantaran sebelum menikah, keuangan diatur masing-masing, secara kan ada yang tinggal dengan mama ada pula yang tinggal di rujab sekolah.
Saat itu, beragam ujian datang. Termasuk, bagaimana menghadapi situasi ketika isteri sering uring-uringan sebagai efek dari ngidam berat yang dialaminya. Di satu sisi, sang isteri agak sedih juga lantaran kondisinya yang takmemungkinkan melayani penulis sebagai suami. Namun, itulah proses yang harus kami terima. Saat itu, bagi kami fase ini adalah fase yang amat berat, namun harus dilalui.
Namun banyak hikmah yang penulis petik selama mendampingi isteri yang mengalami ngidam berat. Salah satunya, menemukan dan menjelajahi kedai yang ada di sekitar kosan tempat kami tinggal hingga saat tulisan ini disusun. Mengapa? Lantaran sang isteri tercinta selalu ingin makan makanan favorit nya. Mulai dari buah kedondong, jambu air, hingga ikan lure, begitulah yang namanya ngidam.
Ujian lain, adalah ketika penulis harus sering absen mengajar. Lantaran harus mendampingi isteri yang tengah hamil muda. Namun, yang lebih berat adalah ketika sang isteri harus pulang ke rumah mertua di Raha, lantaran penulis takmungkin bisa memberikan pendampingan secara full.
Ketika genap sepekan di Raha, sang isteri mengirimkan kabar lewat media perpesanan whats app bahwa usia kandungannya sudah hampir 2bulan. Penulis senang mendengarnya, tapi penulis lebih senang lagi,  ketika ia akan kembali ke Kendari. Namun, sesampai di Kendari, ngidam beratnya semakin bertambah parah. Hingga akhirnya, penulis sendirilah yang mengantarkan sang isteri ke raha. Dan itu, adalah kali ke 2 penulis ke Raha. Setelah sepekan di Raha, penulis dengan berat hati harus kembali ke Kendari tanpa bersama dengan isteri untuk melaksanakan hobby sebagai guru.
Walau demikian, semua ini harus dijalani lantaran ini adalah demi kebaikan penulis, sang isteri, dan calon bayi yang dikandungnya. Hari-hari penulis tanpa keberadaan sang isteri rasanya sangat sepi, terlebih ketika penulis bangun tidur di sore hari. Untunglah, ada youtube dan portal berita online yang menetralisir perasaan sepi yang penulis alami selama menjalani kesendirian tanpa dampingan isteri.
Setelah genap sebulan, secara kebetulan adalah libur smester1. Akhirnya, penulis berlibur di Raha sekaligus melepas rindu dengan isteri yang tengah hamil. Setelah masa liburan usai, penulis dan isteri kembali ke Kendari. Lantaran usia kandungannya yang sudah genap 4 bulan dan kondisinya sudah stabil kembalilah yang membuat sang isteri memutuskan ikut kembali ke Kendari untuk mendampingi penulis dan menjalani hari-hari seperti biasa. Sesampai di Kendari, penulis membawa isteri ke Posyandu untuk memeriksakan kandungannya yang saat itu telah berusia 6bulan.
Setelah 2 kali penulis memeriksakan kandungan sang isteri penulis dan isteri harus kembali ke Raha untuk melaksanakan acara 7 bulanan yang dilakukan sesuai tradisi dan adat istiadat muna. Alhamdulillah, ditengah kehamilan sang isteri secara logika kita takpunya uang kecuali buat makan. Namun, Allah lewat kuasanya menurunkan rezki lewat anak kami dengan jalan yang tak disangka-sangka hingga akhirnya acara 7 bulanan calon bayi kami dapat terlaksana dengan lancar tanpa kendala.
Setelah Kasambu atau acara 7 bulanan usai, penulis membawa sang isteri kembali ke Kendari, dengan perjanjian bahwa hanya 2 pekan ia di Kendari, lantaran ia telah dipersiapkan untuk melaksanakan persalinan di Raha dibawah dampingan bidan keluarga. Namun, Allah berkehendak lain.
Sesampai di Kendari, akhirnya isteri mengeluh keluar cairan dari rahimnya, penulispun memanggil sepupu dan tetangga untuk membawa sang isteri ke rumah sakit. Pertama, kami membawa sang isteri ke Puskesmas, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa cairan yang keluar adalah ketuban. Namun, waktu melahirkannya masih jauh. Namun, setiba di Rumah sakit dokter menyatakan bahwa yang keluar dari rahim sang isteri hanyalah cairan biasa. Namun, penulis disuru membawa sang isteri ke rumah sakit tersebut pada keesokan harinya jika ketuban tak kunjung berhenti keluar.
Namun, lantaran ketuban tak kunjung berhenti keluar, penulis berinisiatif membawa sang isteri untuk memeriksakan kandungan di salah satu rumah sakit bersalin sekaligus melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin anak kami dan menindaklanjuti keluhan sang isteri.
Harapan, setelah memeriksakan dan melakukan USG, sang isteri dapat dijemput oleh mama mertua untuk melahirkan di Raha. Namun, lagi dan lagi Allah berkehendak lain. Setelah melewati proses USG, jenis kelamin anak kamipun telah kami ketahui. Namun, dokter menyarankan kami untuk tinggal di rumah sakit bersalin tersebut lantaran ternyata sudah bukaan 1. Secara logika, kami sebenarnya tidak siap. Namun, ternyata atas kuasa Allah, setelah dicek BPJS nya,  aktif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Tegak lurus saja takcukup