Etri merdiani bagian dari perjalanan hidupku

Oleh:Sujono said


Bagi yang bersekolah di Yapti pada tahun 2004 kebelakang, tentu amat mengenal siswa yang bernama Etri. Ia adalah siswa dengan hambatan MDVI(Multiple disability and visual impairmen) atau dengan kata lain tunanetra ganda. Ia adalah tunanetra low vision dan juga mengalami hambatan intelektual alias tunagrahita. Penulis sangat senang berkawan dengan etri, karena bagi penulis Etri adalah sosok yang cepat menangkap pelajaran. Perna, suatu sore penulis mengikuti meting english dengan kakanda Hamzah dan bang Yeky tetiba etri juga ikut menguping di arena meting.
Pasca meting, sesuai dengan ciri khasnya layaknya burung beo, Etri langsung menirukan kembali pelajaran yang kami pelajari. Adapun dialogue asli dari percakapan kami adalah sebagai berikut “Hello how are you? I am very well can i borrow your dictionary? Of course! Wich one do you wont? Small or big? The small one, thank you so much, ah it doesn’t matter.” Sedangkan versi etri dialogue nya adalah sebagai berikut “Hello how al you i am vely well can i bolo yol dicconali? Yeah ofcouls you can thank you”. Pernah, suatu kali penulis mencoba memasukkan materi pengetahuan yang bertentangan dengan norma, dengan sigap ia berkata, “tidak mauja de kak jono takutka masuk nelaka kalena di nelaka itu katanya panas kayak wajan penggolengannya mami hiii takutku”.
Kemudian, ketika penulis telah berintegrasi di sekolah umum, tentu banyak hal yang menguras energi siapapun mereka yang menjadi siswa integrasi. Sehingga, di sela-sela kesibukan penulis, tentu amat jenuh juga. Sehingga, di balik kejenuhan penulis etri selalu menjadi penghilang capek kalau boleh kita bilang begitu. Hingga suatu hari, entah tanggal berapa bulan berapa, jelasnya hari itu adalah hari minggu sore di tahun 2008. Kala itu, penulis sedang bermain gitar di depan kantor yayasan.
Tetiba, ia datang di hadapan penulis seraya berkata “Kak jono mauka singing the guitar”. “OK Mau nyanyi apa?”. Tanyaku, “mauka nyanyi begini laguku kak jono beldoalah sebelum kita tidul, jangan lupa cuci kaki tanganmu, jangan lupa doakan mama papa kita. Beldoalah sebelum kita tidul, jangan lupa cuci kaki tanganmu, jangan lupa doakan mama papa kita”. Sambil penulis mengiringinya dengan gitar merk Forte yang Yapti punya kala itu. Bagi penulis, etri memiliki suara khas, dan amat menguasai teknik bernyanyi. Sehingga, penulis suka mengajaknya singing the guitar katanya😊. Namun, tidak ada pesta yang tak berakhir kata Andi F.Noya. Etri harus pulang ke tanah kelahirannya di Bogor dengan meninggalkan kenangan yang amat membekas di hati, terutama di hati penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup