Desember, kenangan dan nilai-nilai keberagaman yang terpatri

Oleh:Sujono said

Tahun 1993, kala itu penulis masih kanak-kanak. Lantaran papa dan mama baru pindah dari perumahan pemerintah menuju rumah panggung milik pribadi di Bangkahang yang kala itu termasuk dalam wilayah dusun tongke-tongke desa Lowa kecamatan bonto sikuyu kabupaten selayar.
Rumah kami, bertetangga dengan gereja, tapi gereja masih belum dibangun masih lahan kosong lah ya. Sehingga kegiatan ummat kristiani seperti sekolah minggu dan ibadah minggu masih dilaksanakan di pastori istilah untuk rumah dinas pendeta. Ketika penulis dan keluarga pindah dan menempati rumah yang dibangun oleh papa dengan susah payah, secara kebetulan adalah bulan desember. Suatu sore, berlangsunglah kegiatan persiapan natal oleh anak-anak sekolah minggu.
Saat itu, penulis sebagai anak kecil yang belum tahu apa-apa ikut mainlah ke pastori sambil mendengarkan riuh rendah tawa anak-anak sekolah minggu dibawah bimbingan pak pendeta Lewi kala itu. Sepulang ke rumah, penulis bertanya ke mama dan papa dengan pertanyaan seperti ini, “Ma mereka lagi bikin apa itu tadi sore?”. “Oh, mereka lagi latihan persiapan natal nak” ujar mama menjawab. “Oh, jadi saya boleh ikut kegiatan mereka tidak?” tanya penulis merespon jawaban mama.
“😊 tidak boleh nak, kan kita tidak sama dengan mereka. Kalau main-main saja dengan mereka boleh, tapi kalau kamu ikut apa yang mereka bikin ya kamu berdosa nak. Karena, kan kita ini agama islam nak sedangkan mereka kan kristen” Mama menjelaskan panjang lebar kepada penulis.
Dari obrolan antara mama dan penulis diatas menunjukkan betapa oleh mama toleransi dan batasan-batasan dalam beragama itu sudah diajarkan sejak dini. Makanya, penulis ketawa ketiwi saja ketika ada yang mengatakan bahwa toleransi itu adalah bertukar keyakinan. Dan bagi penulis, ucapan tersebut adalah ucapan profokatif dan propaganda agar umat beragama di indonesia pecah kongsi.
Beberapa tahun kemudian, gereja di lahan kosong sebelah pastori pun berdiri megah, kegiatan ibadah, sekolah minggu dan kegiatan lainnya pun dilaksanakan di gereja yang telah dibangun.
Setiap bulan desember, sudah menjadi pemandangan lumrah bagi penulis ketika mereka setiap sore latihan menyanyi, dan latihan drama untuk persiapan natal. Hingga akhirnya, pada tahun 2003 setelah penulis menammatkan sekolah di SDLB Bulukkumba yang kini menjadi SLBN1 bulukkumba menuju SLB-A Yapti. Penulis malah seatap dan sekamar dengan teman-teman tunanetra kristiani. Tiap sore, penulis sering mendengar mereka menyetel gitar dan berlatih vocal group.
Pemandangan inilah yang membuat penulis akhirnya rindu dengan rumah penulis yang bersebelahan dengan gereja di bangkahang. Sejak gereja tersebut berdiri dan digunakan untuk kegiatan peribadatan, pak pendeta Lewi harus meninggalkan bangkahang lantaran mendapat mutasi dari Sinode. Lalu, berpindahlah tugas memimpin dan membimbing umat kepada Pendeta Andarias maseng, berlanjut ke siapa lagi wallahu a’lam, karena penulis sudah berada di Makassar.
Kerinduan antara penulis dan rumah yang berhadapan dengan gereja inilah yang membuat hubungan antara penulis dan teman-teman kristiani semakin mesra hingga hari ini. Terlebih, ada banyak juga keluarga penulis yang beragama kristiani di lowa. Ketika di Barang-barang ibu kota desa Lowa belum berdiri gereja, mereka pagi-pagi sudah harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer ke gereja depan rumah penulis untuk melaksanakan ibadah minggu. Setelah ibadah selesai, mata hari telah panas menyengat, tidak mungkin mereka jalankaki untuk pulang. Sehingga, terkadang papa penulis yang mengantar salah satu dari mereka pulang ke barang-barang dengan menggunakan motor.
Tapi, nilai keberagaman itu, tidak semata terbentuk dari hubungan emosional semata. Melainkan, ketika penulis banyak bertanya bukan kepada rumput yang bergoyang😊 melainkan kepada para ulama tentang bagaimana kita sebagai seorang muslim menjalin kekerabatan dengan umat lain. Akhirnya, sampailah bacaan penulis pada salah satu ayat dalam al-quran yang berbunyi “Tidaklah aku,  ciptakan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku kecuali agar kalian saling mengenal”. Artinya, ayat ini menekankan bahwa kata mengenal itu tidak sekadar tahu akan mereka.
Tapi, melainkan menghargai keberadaan mereka dan berkasih sayang dengan mereka. Belum lagi, ketika kita kembali ke piagam madina walaupun saya lagi nunggu piagam manado sampai kerumah pertanda saya telah selesai PPG😊. Piagam madina salah satu poin nya adalah ummat di luar muslim adalah saudara kita. Sehingga, mereka kita harus lindungi dari gangguan apapun.
Memang, kita tidak bisa sangkal bahwa hubungan penulis dengan rekan-rekan ummat kristiani berawal dengan hubungan histori dan adanya rumpun keluarga yang beragama kristiani. Namun, hubungan tersebut selain nilai yang diinternalisasi oleh mama juga berdasar bacaan,  penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup