Ramadan tanpa mama

Oleh:Sujono said

Setelah kurang lebih8 bulan berpulangnya sang bunda pasca menjadi korban kriminalitas oleh oknum yang berwatak syaiton, penulis kembali ke Makassar untuk menjalani kehidupan yang baru pasca recovery. Sepekan setelah wisuda, bulan ramadan pun tiba. Penulis, kedua adik dan papa menjalani puasa iftita tanpa keberadaan mama di rumah kami di bilangan Mangga 3.
Hal itu, terjadi pada tahun 2014. Seperti biasa, penulis menjalani ramadhan dengan sahur dan berbuka bersama dengan papa. Selain itu, penulis selalu melaksanakan shalat tarawih dan subuh berjamaah di masjid salsabil. Penulis sempat membayangkan, betapa sedihnya hati penulis lebaran tanpa mama. Namun, setelah menjalaninya, penulis lebih khusyuk menikmati atmosfer ramadan.
Mungkin, itulah fasilitas yang telah Allah berikan kepada penulis dan keluarga. Mengapa? Karena, berdasar apa yang penulis yakini bahwa di balik sebuah musibah yang membuat kita shok, insya allah ada hikmah besar di balik semua itu. Termasuk, ketika penulis khusyuk menjalani puasa ramadhan walau hanya ber 4 dengan papa. Walau berbuka dan sahur dengan menu alakadarnya.
Kala itu, penulis selalu menaikkan doa-doa terbaik salah 2 atau 3nya adalah agar penulis tabah menjalani ramadan tanpa mama, agar mama selalu diberikan ketentraman di alam barzah, dan terakhir agar penulis diberikan kehidupan yang lebih layak di masa yang akan datang.
Setelah idul fitri, penulis selain berkesempatan melakukan silatur-rahim dengan keluarga, penulis juga berkesempatan melakukan silatur-rahim dengan teman-teman tunanetra Makassar yang membuat penulis akhirnya lebih punya spirit. Namun, silatur-rahim yang amat berkesan adalah ketika penulis melakukan silatur-rahim ke Yukartuni pasca 7 tahun setelah berkunjung ke sana.
Hingga akhirnya, penulis pun berkarier sebagai guru di sana. Maka, benarlah apa kata ajaran agama bahwa barang siapa yang melakukan silatur-rahim, maka akan dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Mungkin, itulah jawaban dari Allah atas doa-doa yang penulis naikkan.
Kini, 12 tahun sudah peristiwa tersebut saat tulisan ini disusun yang juga bertepatan dengan bulan ramadhan, doa penulis masih tetap sama yaitu kiranya mama ditempatkan di syurganya Allah taala. Kemudian, semoga penulis bersama isteri dan putra kesayangan selalu dalam lindungan Allah yang maha kuasa. Dan satu hal yang lebih penting, yaitu semoga penulis makin aktif menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup