Ramadan di anggoeya
Oleh:Sujono said
Setelah menikah pada 10 juli 2023, penulis tak lagi tinggal di rujab sekolah di Lorong jambu. Melainkan, penulis mengontrak di bilangan Ruruhi tepatnya di belakang Masjid Miftahul khair bersama isteri tercinta sebagaimana telah penulis sajikan dalam beberapa tulisan terdahulu.
Setelah kurang lebih sebulan pasca menika, kami akhirnya dikaruniai anak pertama. Dan saat ramadhan iftitah kami lalui sebagai pasangan suami isteri, begitu banyak hal yang kami jalani.
Alhamdulillah, secara kebetulan saat itu isteri penulis tengah hamil 6 bulan. Sehingga, ia tidak lagi kewalahan menyiapkan sahur dan penganan berbuka puasa selama sebulan. Hal tersebut bagi penulis adalah anugerah terindah dari Allah ta’ala. Karena, penulis boleh berpuasa dengan isteri.
Di siang hari, baik penulis yang tengah berpuasa, maupun isteri yang sedang hamil tetap produktif menjalankan aktifitas masing-masing sebagai aktifis group😊. Penulis menjalani lakon sebagai panitia lomba, sedangkan isteri menjalani lakon sebagai dewan juri dalam lomba yang berbeda. Walau demikian, ia tetap maksimal menjalankan kewajibannya sebagai isteri yang tengah hamil menyiapkan penganan buka puasa dan sahur bagi penulis yang sedang berpuasa.
Di malam hari, penulis tetap melaksanakan qiamul-lail di masjid sedang sang isteri tetap dengan sabar menunggu di rumah, walaupun tentu ia merasa kesepian. Baik di siang, maupun malam hari penulis tetap khusyuk melaksanakan ibadah dan kegiatan bulan ramadhan di siang hari. Saat itu, penulis dan isteri senantiasa menaikkan doa-doa terbaik. Terlebih, waktu diterimanya doa adalah saat sahur dan jelang berbuka puasa serta setelah melaksanakan shalat tarawih, karena jujur penulis susah bangun shalat lail di luar ramadhan. Makanya, bulan ramadhan, penulis memaksimalkan waktu.
Selama menggunakan waktu-waktu terbaik, penulis merasakan bahwa apa yang menjadi doa-doa penulis dikabulkan oleh Allah sebagaimana telah penulis uraikan dalam tulisan-tulisan terdahulu pada ramadhan tahun 2023, sebelum penulis meninggalkan rujab di tengah ilalang.
Ketika penulis menjalani ramadhan pertama bersama isteri tercinta, penulis hanya menamatkan sampai 3 juz saja. Padahal, ketika penulis masih tinggal di rujab sekolah, penulis berhasil menamatkan bacaan sampai 4 juz. Padahal, kegiatan online dan of line tetap padat kala itu. Mungkin, karena di rujab sekolah di Kendari kegiatan tidak dipotong dengan acara terima tamu di siang hari, sehingga kegiatan berjalan lancar.
Komentar
Posting Komentar