Menjadi calon imam antara keinginan ummat dan pertimbangan keluarga
Oleh:Sujono said Masih segar dalam ingatan penulis, kala itu tanggal 27 september lalu penulis dihubungi oleh penjaga sekolah SLB kusumabangsa tempat penulis mengajar saat ini. Malam itu, ia menghubungi penulis dengan maksud menyampaikan pesan dari Pak Langkona, pimpinan Pondok pesantren Al-mahmud. Sebuah pesantren yang hanya sepelemparan batu dari SLB Kusuma bangsa Kendari. Adapun isi percakapan antara penulis dan sang penjaga sekolah seperti ini “Jon! Ko dicari sama pak Langkona”. Ujar sang penjaga sekolah dari ujung telephone. “Kenapa saya?” Ujar penulis merespon. “Katanya, kamu diminta untuk jadi imam di masjidnya itu pesantran” Ujar penjaga sekolah menimpali. “Begini bro, bundanya Hannan itu kayaknya takut tinggal di sana. Kedua, andai kata ini yang saya tinggali sekarang ini adalah rumah sendiri mungkin bisa. Tapi, ini rumah dikontrakkan dan kontraknya dibayarkan sama saudara.” Ujar penulis menjelaskan panjang lebar di ujung telephone. Akhirnya, pembicaraan selesai, dan pesan ...