Saat kudengar tangis pertama putra tercintaku

Oleh:Sujono said

Hari itu, jumat tanggal 3 mei 2024, tepat jam 6 pagi proses kelahiran sang bayi mulai dilakukan, setelah mama mertua melihat kondisi bahwa sang bayi sudah siap keluar, iapun mulai memanggil bidan untuk memastikan temuannya. Setelah temuan mama jelas, bidan memerintahkan kepada perawat untuk menyiapkan peralatan persalinan, pun juga mama diminta untuk menyiapkan perlengkapan bayi. Akhirnya, proses tersebut dimulai.
Saat itu, sang isteri diminta menarik nafas sambil berkuat, namun dengan izin Allah hanya dengan 3kali berkuat dan bidan memintanya untuk mencukupkan berkuat. Setelah beberapa detik berselang, tepatnya jam 6 lewat 38 menit tangis pertama putra pertama penulis terdengar dengan kencangnya. Saat sang isteri melaksanakan proses kelahiran, penulis berada di balik tirai tempat tidur dimana sang isteri dibaringkan dan menjalani proses persalinan hari itu. Sedangkan saat proses persalinan, sang isteri hanya didampingi oleh mama dan dibantu oleh beberapa orang bidan dan perawat.
Setelah beberapa menit berselang, penulispun menemui sang putra yang dibaringkan di sebuah tempat tidur kosong. Secara kebetulan, penulis bertanya tentang arah kiblat, dengan maksud untuk melaksanakan shalat. Lantaran sejak masuk di ruang perawatan, penulis belum tahu posisi dan arah kiblat. Saat menanyakan arah kiblat itulah, seorang bidan yang beragama kristen yaitu bidan Sherly, dengan sigap membaca keadaan langsung bertanya “Pak, kiblat di arah sini mungkin anaknya mau diazani” ujar bidan Sherly kepada penulis. “Ia saya mau azani memang” ujar penulis.
Setelah itu, sang bidan langsung memprepare anak kami untuk penulis azani. Setelah penulis mengazankan di telinga kanan sang bayi, sang nenek langsung mengambil dari tangan penulis untuk diserahkan kepada sang bunda untuk pertama kalinya. Sesampainya kepada sang bunda,  putra pertama kami langsung menyusui. Setelah itu, penulispun masuk dengan membawa satu nama untuk anak kami. Kepada sang isteri penulis berujar “Ini nama untuk anak kita yaitu Muwahhidul Hannan, yang artinya anak pertama yang penuh kasih sayang” ujar penulis kepada sang isteri yang saat itu masih lemah.
Sebenarnya, penulis memang sudah berniat untuk mengazankan sang bayi, tapi nanti di ruang perawatan. Namun, karena keburu ditawari dan rentan waktu kelahiran dan kembalinya pasien ke ruang perawatan cukup lama, maka penulispun langsung mengazankan anak kami.
Subuh hari, jelang sang isteri akan melahirkan ia sudah kesakitan. Dan sesuai yang diajarkan oleh keluarga, penulis mengambil air akua kemudian penulis membaca doa di air tersebut seraya bertawassul kepada Allah dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan sang isteri yang bunyinya adalah sebagai berikut “Ya Allah, isteriku ini selalu melayani saya setiap saya berangkat kerja, ia menyiapkan kopi dan sarapan. Setelah pulang kerja, iapun menyiapkan makan siang. Semua itu, dilakukan demi baktinya kepadaku sebagai suami. Jika engkau menilai isteriku ikhlas melayani saya, maka mudahkanlah kelahiran anak kami ya rab amin” Ujar penulis penuh harap kepada Allah.
Setelah air selesai penulis doakan di ruang perawatan, penulis membawa air tersebut ke ruang bersalin dan menyerahkannya kepada mama mertua untuk dibasuhkan ke wajah, perut dan rahim sang isteri. Dengan tujuan, semoga sang isteri mudah melahirkan dengan izin Allah. Akhirnya, sehari pasca kelahiran sang bayi, kami meninggalkan rumah sakit Hati mulia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup