Ketika isyarat itu tiba

Oleh:Sujono said


Waktu itu, tepatnya Juni hingga Juli 2021, penulis sedang liburan ke kampung halaman di Selayar. Hingga suatu malam, penulis sedang beristirahat, tetiba ditelphone oleh Kak Vina salah seorang alumni yapti yang berada di Kalimantan utara sejak sekian belas tahun yang lalu dan kebetulan juga adalah seorang guru. Akhirnya, berbicaralah penulis dengan kak Vina sebagaimana berikut.
Penulis:selamat malam bu pendeta, Kak Vina:selamat malam dek. Penulis:adakah? Kala itu, istilah adakah muncul ketika anakmuda sedang gencar-gencarnya bermain sketer😊. Kakvina:adato😊 begini dek maukoka gabung di forum guru tunanetra akses (FGTA)? Penulis:mauto kak. Akhirnya, singkat cerita pembicaraan terhenti dan gabunglah penulis di group whatsapp tersebut.
Setelah bergabung dalam group WA tersebut, penulis mulailah berinteraksi dengan beberapa diantara mereka. Mulai dari pak Danias barus, Ibu Aleksia Netti seorang tunanetra yang kebetulan memiliki SLB di Kalimantan timur, beserta rekan-rekan tunanetra yang mengajar di SLB negeri dan swasta di pulau jawa. Akhirnya, tetiba terbetik dalam hati sebuah tanya yang mengatakan “Inikah isyarat itu?”.
Di sisi lain, namun momennya tetap sama. Kala itu, penulis juga berkomunikasi dengan kawan lama tentang SLB di sulawesi tenggara, tepatnya di kendari. Kawan lama ini, penulis berkenalan sejak tahun 2017, secara kebetulan ia adalah teman sekolah sekaligus tetangga kampung isteri penulis, namun belum pernah bertemu sejak penulis dan yang bersangkutan saling kenal.
Dari hasil diskusi dengan kawan ini, dengan izin Allah tentu saja membuahkan hasil, tapi penulis belum tahu bahwa itu adalah isyarat dari Allah. Hal yang mengilhami penulis berkomunikasi dengan kawan baik ini adalah ketika penulis mulai tidak bisa menyembunyikan isihatinya lantaran penulis sering menangis dalam batin, karena banyak hal yang ia dengar dan rasakan teramat menyakitkan. Ini, adalah cara penulis untuk memitigasi resiko sebagaimana penulis telah jelaskan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Memitigasi resiko yang akan terjadi.
Di lain sisi, tetiba salah satu siswa penulis mengobrol dengan penulis dan ia berujar begini “Pak! Kalau kurasa-rasa ini tahun depan sudah tidak disini lagi mengajar. Karena, lain-lain perasaanku.” “Ah! Itu tidak mungkin terjadi” ujarku merespon. Karena, secara logika tidak mungkin.
Terkait hasil komunikasi penulis dengan kawan dari tenggara ini, ia meyakinkan bahwa penulis akan diterima di tempat yang ia rekomendasikan. Mengapa? Pertama, dekat dengan rumah keluarga inti penulis. Kedua, pemegang otoritas tertinggi adalah guru dari yang bersangkutan dan guru dari isteri penulis yang masih berstatus pacar kala itu. Dan secara kebetulan, sekolah tersebut masih membuka lowongan guru. Sebenarnya, waktu itu adalah momen yang paling baik.
Mengapa? Karena, kala itu adalah jelang tahun ajaran baru. Tapi, waktu itu penulis belum siap. Penulis siapnya pada smester berikutnya. Karena, niatan penulis adalah di smester berikutnya.
Sebenarnya, penulis berkeinginan agar dicarikan SLB swasta di Muna, tapi yang bersangkutan tetap berkeras agar kelak penulis melakukan ikhtiar untuk pindah ke Kendari saja. Terlebih, menurutnya agak dekat dengan keluarga. Hal ini, ia tegaskan ketika penulis menyampaikan bahwa penulis punya banyak sanak keluarga di kota kendari hingga konawe.
Selain itu, penulis juga menjalin komunikasi dengan beberapa guru tunanetra di jawa, kalimantan, dan provinsi lain. Namun, semuaitu barulah dalam bentuk menginfentarisasi network.
Hanya saja, semua dilakukan untuk jaga-jaga jika kemungkinan terburuk terjadi di plan A. Itu kita lakukan di plan B. Namun, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha Allah lah yang menentukan yang terbaik akhirnya. Memang, penulis punya keinginan untuk kembali mengabdi di desa. Lantaran penulis selalu rindu dengan suasana desa lantaran suasana kota terkadang membuat penulis jenuh.
Mungkin, karena penulis sudah terlalu lama di kota. Sedangkan penulis selalu,  menangis dalam batin, lantaran perlakuan dari empunya otoriti terhadap penerima manfaat dalam hal ini siswa dan siswi yang penulis ajar sudah melampaui takaran kewajaran. Andai hanya penulis saja yang diganggu secara personal, tidak akan menjadi masalah. Tapi, yang diganggu adalah siswa sebagai organ lembaga.
Itu semua, penulis lakukan karena adanya dorongan kuat dari dalam hati yang membuncah-buncah, bukan karena pacar penulis adalah salah satu siswi di tempat tersebut. Selain itu, semua ini penulis lakukan lantaran penulis cinta akan lembaga tempat penulis mewakafkan diri untuk mengajar. Tapi, setelah penulis beberapa kali melakukan kontemplasi, rasanya keberanian penulis sudah merupakan keberanian tingkat dewa, sehingga penulis sudah perlu melakukan langkah-langkah mitigasi resiko. Terlebih, pemegang otorita yang amat superior ini adalah sosok yang suka bermain sesuka hati. Mainan yang dimainkan kepada kitapun bisa kita balikkan kepada yang bersangkutan. Akhirnya, penulis perlu sampaikan bahwa tidak ada motif lain selain menyajikan kepingan-kepingan fakta untuk mengkownter narasi negatif dari superiorisme yang rontok oleh permainan sendiri. Selain itu, fakta-fakta ini perlu diungkap untuk menjawab spekulasi liar yang menggelinding layaknya bola panas. Terlebih, populasi tunanetra kan jumlahnya sedikit makanya firalnya juga,  gampang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup