Memitigasi resiko yang akan terjadi
Oleh:Sujono said
Kala itu, tepatnya pada tahun 2020. Penulis tetiba menyampaikan isihati kepada salah satu kawan dalam sesi minum kopi yang sering dilakukan secara informal. Lantaran penulis mulai berani melakukan kritik kepada pimpinan, mulai dari cara yang santun dan elegan, hingga cara yang agak lantang. Mengapa? Karena sejak penulis mengajar selama kurang lebih 5 tahun banyak hal yang bertentangan dengan hati nurani penulis. Dan saat penulis melontarkan kritik, beliau tetap menanggapi dengan tanggapan yang biasa-biasa saja. Tapi, kekecewaannya ketika penulis mengkritik ternyata disampaikan kepada rekan-rekan penulis sesama tunanetra di tempat lain melalui pembicaraan fia telephone, kemudian dibumbui dengan narasi-narasi sesat fersi kubu sakit gigi.
Memang, penulis awalnya tidaktahu kalau beliau merasa kecewa akan sikap penulis karena merasa ditelanjangi. Tapi, penulis menggunakan teori hukum alam bahwa segala sesuatu pasti memiliki umpan balik. Entah itu positif, maupun umpan balik yang negatif. Hingga suatu hari, dalam sesi minum kopi secara informal dengan salah satu rekan kerja. Penulis berujar begini “Pak! Carikanka nanti tempat mengajar na, karena saya ini sering menyampaikan kritik secara terbuka. Masalahnya, saya ini banyakmi yang tidak sesuai kurasa dengan hati nuraniku, padahal saya masih senang di sini”.
“Apaseng nutakuti pak Jono?”. Anupak, maksudku kalau ada tanda-tanda saya tidak disuka lagi di sini kan bisa langsung pindah”. Ujar penulis. “Siniko pak Jono, di luarki ngopi”. Ujar rekan kerja yang mengarahkan penulis menuju teras sekolah di depan papan yang berisi struktur kepengurusan yayasan. Beliaupun berujar begini “begini pak Jono, tidak mungkin itu ini ada namata sebagai pengurus yayasan. Toh kalau itu terjadi, tidak mungkin kulia’-liakiki pak Jono, pastimi kuselamatkangki insya allah”. Ujar sang rekan kerja menguatkan. “Memang, beliau juga itu sudah perlu digoyang sedikit”.
Tapi, penulis dengan entengnya bicara seperti itu, artinya karena sadar bahwa ketika kita mengkritik walau dasarnya ada, tapi terkadang penguasa itu pasang wibawa maka tetap ada ketidak senangan. Tapi, kritik penulis yang disampaikan secara terbuka itu dilakukan karena sudah dipandang perlu. Lagi pula, penulis melakukan hal ini karena cinta akan lembaga tempat penulis mengajar dan berkarier termasuk dengan SDM nya dalam hal ini para siswa, tidak ada motif lain di balik itu. Walau demikian, yang namanya resiko tetap harus dimitigasi, agar kita paling tidak terhindar. Selain dengan rekan kerja, mitigasi resiko juga dilakukan dengan relasi penulis yang sangat minim, baik di wilayah sulawesi Selatan maupun di luar sulawesi selatan dan pulau Jawa serta di tempat lain.
Komentar
Posting Komentar