Hubungan yang tidak baik-baik saja
Oleh:Sujono said
Tahun 2021, hari itu adalah hari raya idul fitri setelah kita berdamai dengan Covid. Kebetulan, penulis baru saja pulang dari ziarah keliling di rumah salah satu siswa. Secara kebetulan, rekan yang juga sekaligus senior dari penulis berkunjung ke tempat mengajar penulis yang juga merupakan tempat tinggal penulis dengan maksud untuk bersilatur-rahmi dengan penguasa katumenggungan yang juga merupakan tokoh tunanetra. Ketika sang Senior sebut saja Kak Nasra dan isterinya datang, beliau menelphone penulis dan meminta penulis bertemu di pendopo katumenggungan sambil mengobrol.
Ketika penulis tiba di pendopo katumenggungan, ternyata mereka di sana sedang mengobrol dengan penguasa katumenggungan. Sesampai penulis di pendopo, sang penguasa mengobrol dengan Kak Nasra dengan obrolan seperti ini “Itu pak jon, tidak bisa diandalkan”. Selain itu, masih banyak lagi kalimat lainnya, tapi penulis tahu apa maksud tidak bisa diandalkan. Maksudnya adalah, itu pak jon tidak bisa ditundukkan. Karena apa? Dalam beberapa diskusi, banyak hal yang beliau minta tapi penulis tidak sanggupi. Mengapa? Karena, itu sangat bertentangan hati nurani dan prinsip hidup penulis.
Sejak itu, penulis menghindari berdiskusi dengan beliau, lantaran penulis tahu kalau penulis akan emosi dan naik darah jika melayani diskusi dengan beliau. Artinya, saat itu hubungan antara penulis dan sang penguasa katumenggungan lagi kurang baik-baik saja. Sehingga, penulis memilih berjarak. Penulis lebih memilih tinggal di kamar, atau keluar lokasi kalau ada yang undang.
Terlebih, kala itu penulis telah mempersiapkan mitigasi resiko yang dilancarkan ketika penulis menemukan momen yang tepat, ketika libur dan kala itu penulis sedang berada di Selayar.
Ketika penulis berada di selayar, dan hari itu adalah hari lebaran idul adha, setelah shalat id kak nasra menelephone penulis dengan bertanya begini “dipotongmi sapi kah?”. “Saya tidak tahu menahu kak, karena saya lagi di selayar ini”. Ujar penulis merespon beliau dari ujung telephone.
“Eh, kenapa jurubicara tinggalkan tempat ini?.” Ujar kak Nasra kepada penulis. “Sayakan bukan juru bicara, saya sekarang lebih memilih berjarak kak dengan bos ka” ujar penulis. “Kenapa ia?” Ujar kak Nasra. “Ada pernyataannya beliau yang bagi saya, itu sangat menjatuh kan wibawaku sebagai manusia” ujar penulis. Tapi, walaupun penulis memilih berjarak, penulis tetap konsern dengan apa yang menjadi tujuan utama penulis serta missi yang penulis emban sejak penulis mengajar.
Ketika penguasa katumenggungan menyampaikan statemen secara informal kepada kak nasra dan beberapa kolega yang hadir di pendopo katumenggungan, penulis langsung memberi isyarat yang oleh orang makassar bilang diko’bi’. Di balik isyarat itu penulis ingin bilang ke kak Nasra dengarkan saja, andakan lebih tahu saya, karena menurut beliau sayakan tidak bisa ditundukkan.
Setelah kejadian tersebut dan kepulangan penulis dari selayar berlibur dan berlebaran idul adha, penulis kembali mengajar seperti biasa, namun menghindari diskusi-diskusi yang tidak perlu. Terlebih, mitigasi resiko sebagaimana pada tulisan terdahulu telah penulis siapkan ketika pulang ke Selayar. Selebihnya, hanya pada Allah lah segalanya kuserahkan, toh peranku sebagai manusia telah usai. Hubungan boleh berjarak, namun untuk urusan kelembagaan, koordinasi tetap jalan.
Penulis selalu dicari dan diuber oleh beliau, ketika ia butuh penulis untuk berdiskusi. Namun, ketika hajatnya usai, dan tidak ada titik temu maka beliau menyampaikan statemen yang amat menyakitkan bagi penulis secara kodrati. Mengutip sebagaimana idiom yang berlaku dikalangan mereka yang memotret sepak terjang penulis selama mengajar di padepokan seperti ini, itu aset kadang-kadang dicari saat dibutuhkan udah itu dianggurin. Realitanya, seperti itu memang.
Tapi, bagi penulis itu adalah cara Allah untuk mewujudkan apa cita-cita penulis seperti mengajar di tempat yang masih syarat dengan suasana desa dan masih banyak lagi keinginan, penulis yang hari ini Allah telah wujudkan. Selain itu, penulis diselamatkan oleh Allah lewat drama, turki.
Komentar
Posting Komentar