Isteri ikut pelatihan suami jaga anak
Oleh:Sujono said
Saat itu, anak kami Muwahhidul Hannan baru berumur 1 tahun dan masih merangkak. Sedangkan isteri, sebagaimana telah penulis ceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya adalah seorang tunanetra, sama seperti penulis. Kalau teman senasib kami di tempat lain utamanya mereka kaum perempuan terkadang bersama dengan suami mengikuti training, FGD, dan kegiatan disabilitas lainnya. Karena, anak mereka dijaga entah oleh nenek , tante, atau keluarga lain yang dipercaya.
Sedang penulis bersama isteri, jauh dari orang tua, Mertuapun punya kesibukan sendiri di kampung. Sehingga, penulis memutuskan untuk izin tidak masuk mengajar selama 2 hari karena harus menjaga anak di area pelatihan. Jadi, ceritanya seperti ini. Pada akhir bulan april tahun 2025 lalu, penulis dihubungi oleh salah satu tim dari sebuah lembaga training, karena kebetulan penulis juga adalah lepasan dari training yang isteri juga ikuti. Ketika tim dari lembaga training tersebut menghubungi penulis, maka penulispun mendaftarkan sang isteri untuk mengikuti training tersebut.
Ketika penulis selesai mendaftarkan sang isteri maka terjadilah dialog. Bahkan, sang isteri sangsi kalau penulis akan mampu menjaga anak kami di area pelatihan. Tapi, penulis berusaha meyakinkan isteri dengan pengalaman penulis mulai dari kondisi hotel hingga pengalaman lain.
Singkat kata, pada tanggal 13 dan 14 mei tahun 2025, penulis menemani sang isteri untuk mengikuti pelatihan di hotel azizah syariah kala itu. Sesampai di hotel, sang isteri melakukan registrasi dan melaksanakan proses pelatihan. Sedang penulis, menjaga anak di depan ruang pelatihan.
Setiap hari selama pelatihan, isteri membuat bekal terenak untuk penulis. Karena, penulis tidak ada jatah makan siang di hotel. Anak kamipun yang kala itu masih makan bubur dibuatkan bubur di rumah. Sehingga, ketika waktu isoma tiba, penulispun menyempatkan untuk makan siang sedang anak kami disuap oleh bunda di ruang pelatihan. Jadi, anak kami dan bundanya hanya bertemu saat cavay breek dan waktu isoma saja. Selebihnya, ia bersama ayah dalam hal ini penulis di luar ruang pelatihan. Ketika anak kami terlelap di sofa, dan cavay breek tiba, maka penulispun alhamdulillah dapat jatah segelas kopi. Mungkin, itulah fasilitas dari Allah ketika suami mendukung isteri untuk maju.
Lantaran sang isteri adalah sosok yang cerdas berdasar kacamata penulis sebagai yang pernah menjadi gurunya, maka sejak menikah penulis berjanji akan selalu mengikutkan sang isteri di berbagai forum. Dan tanggal 13 dan 14 mei 2025 itulah waktu untuk mewujudkannya. Bahkan, teranyar adalah pada tanggal 7 april sang isteri adalah kali ke2 mengikuti kegiatan lagi-lagi bersama dengan anak kami.
Komentar
Posting Komentar