Catatan reflektif dari keinginan hingga memutuskan hijrah
Oleh:Sujono said
Saat itu, tahun 2015 entah bulan april atau mei. Penulis dikenalkan dengan sebuah alat komunikasi yang diberi nama Bubli telkomsel. Saat itu, penulis dikenalkan oleh siswa penulis. Katanya, dari seorang tunanetra yang sering penulis daulat menjadi pemateri di kelas mengarang.
Ketika penulis menggunakan media tersebut, penulispun berkenalan dengan teman-teman tunanetra di daerah jawa dan sulawesi. Termasuk, kawan dari sulawesi selatan, tenggara, tengah, utara, barat dan provinsi Gorontalo. Namun, pada tanggal 17 agustus 2015, secara kebetulan berlangsung perkemahan pramuka antar SLB se gugus2 meliputi SLB negeri 2 atau SLB bulurokeng sebagai sekolah inti, SLB-A Yapti, SLB Laniang, SLB Taruna bunga bangsa, SLB Reskiani, SLB Yukartuni yang merupakan tempat mengajar penulis, SLB Arnadia, SLB YPAC, dan masih banyak lagi.
Malam hari, setelah makan malam penulis didatangi oleh seorang tetangga katanya meminta penulis untuk ke rumah bu RT. Ternyata, bu RT adalah guru SLB Laniang yang sebenarnya juga tidak jauh dari rumah penulis. Karena, ternyata beliau sering mendengar cerita tentang penulis yang mengajar di Antang Kassi, istilah penulis kala itu. Sebagai seorang perempuan dan itu lazim terjadi, maka dipanggillah penulis ke rumah beliau untuk berdiskusi dengan tujuan diajak pindah.
Hal yang sangat mendasari beliau mengajak pindah, adalah karena jarak dari rumah ke SLB Laniang sangat dekat. Tapi, setelah lebih dalam berdiskusi, ada kekhawatiran penulis yang membuat penulis tidak mengiakan tawaran tersebut. Apa Itu? Yaitu, ketidak siapan penulis mengajar ketunaan lain selain netra dan daksa. Sejak saat itu, penulis dan bu RT atau Ibu Mustahirah yang sering dipanggil bu mus makin intens berkomunikasi, selain karena penulis beliau, dan suami beliau adalah rekan se profesi juga adalah komunikasi antara ketua RT dan warga. Terlebih, bu RT dan pak RT sangat baik.
Bu RT, dalam berkomunikasi selalu mengedepankan pendekatan keibuan. Sedang pak RT, selalu mengedepankan gaya jenaka dan eazy going. Sehingga, penulis sejak malam itu hingga tidak lagi tinggal di Mangga3 berkomunikasi secara baik. Dalam diskusi, sejujurnya dari sanubari terdalam sudah membuka diri dengan tawaran bu RT. Namun, sebagaimana telah penulis jelaskan diatas, ada pertimbangan yang membuat semuanya urung. Sehingga, pembicaraan selesai malam itu juga.
Akhirnya, pada bulan Oktober 2015, penulis berkenalan dengan guru-guru SLB se sulsel dalam kegiatan pelatihan guru pembimbing khusus. Singkat kata, penulis akhirnya tahu kalau dekat rumah penulis di bilangan mangga 3 ada 2 SLB, yaitu SLB Reskiani dan SLB Taruna bunga bangsa.
Ternyata, penulis punya teman namanya kak Nasrafuddin kala itu mengajar di SLB Taruna bunga bangsa. Beliau adalah seorang tunanetra, mengajar matapelajaran Seni musik. Di sekolah tersebut tidak ada siswa tunanetra, yang ada, adalah siswa tunarungu, grahita, dan daksa.
Sejak itu, penulis sudah mulai berpikir keluar kotak. Penulis sadar bahwa kalau mau mengajar di SLB tidak harus mengajar tunanetra terlebih misal sekolah yang dekat dengan rumah kita tidak ada tunanetra. Penulis akhirnya penasaran dengan kak Nasra yang mengajar di SLB yang boleh dikata hanya sepelemparan batu dari rumah penulis dan yang ia ajar adalah anak yang bukan senasib dengan beliau.
Akhirnya, suatu hari kebetulan telah selesai ulangan semester ganjil dan penulis sedang tidak ke sekolah lantaran nilai ulangan sudah disetor ke wali kelas. Secara, penulis kala itu adalah guru bidang studi. Tetiba, penulis tergerak untuk menelephone kak Nasra dan kebetulan beliau ada di sekolah.
Singkat kata, penulis membuat janji bertemu beliau di SLB Taruna bunga bangsa. Namun, saat itu jalan hijrah penulis belum terbuka. Karena, pas selesai mandi, Mangga3 langsung diguyur hujan deras, akhirnya perjalanan ke SLB Taruna bunga bangsa urung terjadi. Padahal, tujuan penulis bertandang ke SLB Taruna bunga bangsa adalah mengecek kondisi SLB Taruna bunga bangsa dan peserta, didiknya.
Juli 2016, kebetulan berlangsung kegiatan yang diadakan oleh P4TK yaitu Seminar tentang bagaimana menangani anak autis, ADHD, dan ketunaan sejenis di hotel remsi. Saat itu, penulis bersebelahan tempat duduk dengan Ibu Andi Nur fatimah, kepala sekolah SLB Reskiani yang juga tidak jauh dari rumah penulis. Penulis sempat mengobrol dengan ibu Andi Nur fatimah, beliau merespon penulis dengan sangat baik. Namun, lagi dan lagi jalan hijrah belum terbuka lebar, karena setelah itu penulis sesuai instruksi papa agar tinggal di asrama sekolah, hingga akhirnya penulis tidak lagi sempat bertemu.
Sejak penulis tinggal di SLB yukartuni, penulis aktif sebagai pengguna babli. Lewat babli, berkenalanlah penulis dengan siswa SLB di Seluruh Indonesia, baik yang di Jawa maupun yang berada di sekitar Sulawesi, kalimantan, dan sumatra. Sejak saat itu, penulis akhirnya mengubah niat untuk suatu waktu penulis ingin pindah ke SLB yang ada di pedesaan. Entah ia di sulawesi selatan, atau di tempat lain. Namun, 6 bulan setelah penulis tinggal di Yukartuni, penulis bertemu pak Anwar Masimming, beliau adalah kepala sekolah SLB Taruna bunga bangsa. Penulis bertemu beliau di sebuah efen yaitu kegiatan ABK berseri yang secara kebetulan, Makassar didaulat menjadi tuan rumah.
Bakhan, karena kebetulan penulis sebagai pengisi acara yah sebagai pemain bas😊, sepulang dari lokasi acara beliaulah yang membonceng penulis hingga ke rumah kawan untuk menginap. Di atas motor, penulis sebenarnya ingin mengutarakan langsung niat penulis untuk pindah ke sekolah beliau.
Tapi, lagi dan lagi dengan segala pertimbangan yang amat tidak etis untuk penulis expos sehingga penulis tidak mengutarakan keinginan penulis. Akhirnya, impian untuk mengajar di SLB dekat rumah pupuslah sudah. Kemudian, tahun 2017, tepatnya pada bulan Oktober dalam sebuah kegiatan penulis bertemu dengan guru dari SLB negeri selayar, yang notabene adalah kampung penulis.
Dari obrolan penulis dengan beliau, penulis akhirnya tahu kalau di Selayar berdiri sebuah SLB swasta yang didirikan oleh kepala sekolah SLB negeri Selayar yang masih punya hubungan family dengan penulis. Mendengar hal tersebut, penulis menyampaikan hal tersebut kepada papa.
Akhirnya, setahun kemudian tepatnya 14 juli 2018 penulis bertandang ke rumah Bu Haji Jaora, ketua Yayasan SLB YPK Annisa kabupaten selayar. Saat pertemuan tersebut, keinginan penulis sangat diapresiasi oleh beliau. Namun, beliau sedih dan khawatir jika sekiranya penulis kurang maksimal dalam menjalankan tugas karena faktor transportasi di selayar yang amat kurang. Lagi dan lagi, pembicaraan detlok. Setelah semua menemui jalan buntu, maka penulis kembali mengajar.
Pada tahun 2019, penulis akhirnya berpikir untuk hijrah ke SLB Tatwam asi bau-bau. Namun, karena sesuatu dan lain hal maka keinginan untuk hijrah ke SLB Tatwam asi lagi dan lagi urung.
Lalu, penulis berusaha untuk hijrah ke SLB Samata kasi di Kabupaten Muna, namun penulis mendapat penolakan dari pihak yayasan. Harusnya, dengan penolakan tersebut, penulis harusnya sakit hati. Namun, penolakanlah yang membuat penulis akhirnya punya amunisi yang banyak.
Mungkin, itulah rahasia Allah sambil penulis mengontak salah satu tim sukses, penulis oleh seorang senior dari Yapti namanya kak Vina menggabungkan penulis dalam group forum guru tunanetra akses. Di forum tersebut, penulis berkenalan dengan teman-teman tunanetra yang menjadi guru SLB negeri dan swasta di jawa, sumatra, dan kalimantan. Sembari bergabung dengan mereka, penulis merenung dan berkontemplasi hingga muncullah tanya yang berbunyi inikah isyarat itu?.
Di saat yang bersamaan, penulis menghubungi Ikhsanudin, seorang kawan dari Muna yang kala itu sedang menempuh studi di Uninus. Beliau, kawan ini merekomendasikan penulis untuk mengajar di sebuah SLB di kota kendari. Lantaran, kebetulan penulis punya keluarga inti di kendari.
Selain itu, yang menjadi ketua dewan pembina yayasan adalah guru beliau. Katanya, SLB tersebut, sudah terkenal namanya, SLB Kusuma bangsa Kendari. Saat itu, beliau telah menseriusi tindak lanjut dari penulis. Namun, penulis meminta penundaan terlebih aturan korona masih agak ketat dan agak sulit. Akhirnya, pada bulan februari 2022, penulis meminta kontak person dari SLB Kusuma bangsa. Lalu, tanggal 23 ramadan yang bertepatan dengan 25 april penulis melakukan komunikasi dengan pihak yayasan SLB kusuma bangsa kendari. Hingga akhirnya, pada bulan juli 2022, penulis akhirnya hijrah ke SLB Kusuma bangsa kota kendari sultra hingga tulisan reflektif ini, disusun.
Komentar
Posting Komentar