Cerita dibalik idul adha di anggoeya

Oleh:Sujono said

Malam rabu, yang merupakan malam jelang peringatan hari raya idul adha, semua terasa spesial. Karena, sehari sebelumnya papa mertua berkunjung dari Raha ke Kendari. Dan saat malam takbiran tiba, beliau bermalam di rumah kami. Besoknya, kamipun menjalankan shalat idul adha bersama beliau di masjid depan rumah. Usai shalat, ada keharuan lantaran penulis tetiba ingat akan papa dan mama yang telah menghadap Allah sampai penulis menangis di bahu papa mertua pagi itu.
Bagi penulis, kehadiran papa mertua adalah obat rindu akan papa dan mama. Bahkan, saat itu penulis berpesan kepada isteri tercinta dengan berujar begini “Dek! Mumpung papa dan mama masih ada, berbuat baiklah. Jangan sampai, mereka menghadap Allah kamu menyesal dek.”
Namun, sosok yang paling bahagia dengan kehadiran ayah mertua yaitu putra semata wayang kami Hannan, karena ia selalu rindu sama bapa tuanya. Kehadiran beliau di kendari, karena beliau hadir di acara kedukaan lantaran ada keluarga dari sang isteri berpulang pada hari senin tanggal 25 mei kemarin. Rencana, papa mertua akan tinggal di kendari hingga 7hari masa berkabung.
Namun, sehari setelah idul adha, papa mertuapun harus balik ke raha untuk suatu urusan. Tapi, syukur alhamdulillah, karena beliau sudah sempat berlebaran dengan penulis dan keluarga.
Hal lain yang mengharukan sekaligus mengagetkan, ketika pengurus masjid datang ke rumah untuk membawa daging kurban dari seorang tetangga. Penulis sempat heran, bu guru ini tahu penulis dari mana? Padahal, penulis tidak pernah menjadikan kondisi disabilitas penulis sebagai alat untuk memperoleh bantuan. Yang ada, penulis lebih sering bolak balik dari rumah ke sekolah untuk mengajar dengan jalan kaki menggunakan tongkat. Atau tiap sore, kadang ke BRI link atau ke toko membeli popok untuk Hannan, juga penulis berjalan kaki dengan menggunakan tongkat itu saja tidak ada lain.
Tapi, semua itu lagi dan lagi Allah yang mengatur. Lalu, pada hari kamis siang, penulis mendapat chat whats app dari tim lazis muhammadiah untuk meminta alamat dalam rangka pendistribusian daging kurban. Dan alhamdulillah, daging kurbanpun di distribusikan ke rumah kami.
Intinya, alhamdulillah begitu banyak karunia yang telah allah turunkan lewat orang-orang yang penulis tidak kenal. Tapi, mereka mengenal penulis. Tapi, penulis tidak pernah menggunakan ketunanetraan penulis untuk menengadahkan tangan. Karena, bagi penulis itu adalah hal yang amat memalukan. Baik bagi komunitas, organisasi dan diri sendiri sebagai kaum tunanetra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup