Cerita dibalik layar jelang kepindahanku ke sultra

Oleh:Sujono said

Tanggal 8 mei 2022, penulis bertolak meninggalkan selayar menuju makassar untuk kembali menjalankan tugas. Dan penulis tiba di Makassar pada sore hari dengan selamat, keesokan harinya penulis langsung melaksanakan pembelajaran secara daring lantaran siswa penulis masih berada di kampung. Malam harinya, penulis kembali menghubungi ketua dewan pembina yayasan Kusuma bangsa untuk memfolloapi pembicaraan penulis termasuk berkas yang harus disiapkan.
Lalu, pada hari selasa tanggal 10 pagi, tepatnya jam 6.30, penulis mengetik surat lamaran yang ditujukan kepada kepala sekolah SLB Kusuma bangsa dengan menggunakan labtop toshiba yang telah kurang lebih 10 tahun menemani penulis. Penulis mengetik menggunakan hedset, lantaran labtop penulis volumenya kecil jika kita menggunakan jaws waktu itu. Lucunya, pada saat mengetik lamaran tetiba ketua yayasan yang merangkap sebagai kepala asrama datang ke kamar putra untuk memberi wejangan kepada binaan asrama putra termasuk salah satunya adalah penulis.
Kebetulan, beliau adalah seorang tunanetra total(totally blind). Akhirnya, masuklah beliau ke kamar putra mengobrol. Dan saat itu, penulis sedang mengetik menggunakan Hedset. Sembari mengobrol dengan binaan lain, beliau bertanya kepada penulis dengan pertanyaan seperti ini “Pak jon, lagi bekingapaki?”. Sembari mengetik, lantaran walau suara jaws lewat hedset besar penulis masih mendengar obrolan yang lain. Maka, penulis jawab begini, “anupak lagi ada proyek ini pagi-pagi😊”.
Mendengar jawaban tersebut, beliau bertanya begini “ Boleh saya tahu proyek apa itu bela?”. Penulis dalam hati berujar, bisa tamat riwayat kalau jujur. Menanggapi pertanyaan beliau, penulis berujar begini, “Anupak, biasalah kalau ada yang muncul di hati harus ditulis jangan sampai hilang. Saya inikan bapak tau, kalau saya aktif menulis.” “Bersayap lagi bahasanya pak jon ini bela”, ujar beliau merespon sembari penulis tetap mengetik dengan lincah diatas papan keyboard labtop.
Beruntungnya, tidak ada orang awas yang menguntit penulis saat mengetik surat lamaran untuk diajukan ke SLB Kusuma bangsa kota kendari sultra. Setelah semua usai, sambil tidur siang, penulis melakukan koordinasi dengan teman untuk membantu penulis memprint surat lamaran, serta memvotocopy ijazah penulis sebagai lampiran berkas. Keesokan harinya, proses pun bermula.
Hari itu, tepatnya bakda ashar. Secara kebetulan, isteri dari sang ketua yayasan bersama anak-anaknya lagi jaga warung yang terletak di sebelah kiri gerbang yayasan. Penulis, seperti biasa keluar menggunakan sarung, baju kaos oblong, dan tongkat di tangan. Sementara, berkas dikepit di ketiak.
Karena, seperti itulah penampilan penulis diluar jam mengajar, kecuali penulis menerima tamu resmi. Dan mereka, tahu kalau penulis keluar tapi, sepertinya mereka tidak menaruh curiga pada penulis, lantaran penulis sudah seperti itu modelnya, dan itu sudah lazim terjadi tiap hari.
Nah! Disinilah seni pencitraan itu berlaku. Jadi, penulis harus menjaga citra diri penulis dimata mereka. Karena, di mata mereka penulis adalah tukang tidur, pemalas, dan tidak tahu urus apa-apa.
Pokoknya, karena ketua yayasan dan keluarga bersikap under estimate kepada penulis. Maka, citra itu harus penulis jaga demi memuluskan langkah penulis untuk hijrah. Paling, mereka berpikir kalau penulis hanya pergi minum kopi di rumah salah satu alumni. Syukurnya, para intel yayasan sedang tidak dimarkas. Sehingga, semua urusan alhamdulillah dilancarkan dengan izinnya.
Setelah hari itu, penulis kembali mengajar seperti biasa dan paling penting adalah menjaga citra diri dan menjaga penilaian under estimate atau kata kasarnya memandang rendah kepada penulis. Jadi, kembali jadi tukang tidur dan kembali jadi pemalas di mata sang penguasa dan keluarga.
Akhirnya, 4hari kemudian. Penulis mendapat pesan whatsapp dari sang pengurus berkas. Sore hari, seperti biasa penulis keluar kompleks dengan tampilan sebagaimana telah diterangkan. Lagi-lagi, sang isteri ketua,  yayasan dan salah satu anaknya lagi menjaga warung dan tidak menaruh curiga kepada penulis. Sehingga, penulis dengan mulusnya melancong ke luar kompleks alhamdulillah.
Setelah semua lengkap, penulis kembali pulang ke yayasan dengan membawa sebundel berkas yang ditaru dalam kantong plastik. Saat penulis melewati gerbang, sang intel tetap yayasan ini masih menjaga warung dan alhamdulillah, tidak menaruh curiga kepada penulis. Padahal, penulis sedikit was-was. Tapi, tetap tak ada tanya sehingga penulis tetap leluasa melancong ke kamar putra.
Akhirnya, tibalah pada hari jumat tanggal 10 juni 2022. Penulis menjadi khatib shalat jumat. Yang ternyata, materi khutbah penulis membuat sang ketua yayasan tersinggung dan murka. Akhirnya, pada hari sabtu kurang lebih jam 7 pagi, penulis mendengar ketua yayyasan menelephone seseorang.
Setelah itu, kebetulan penulis akan menyeduh kopi. Tetiba, sang ketua yayasan datang ke kamar memanggil penulis dengan berujar begini, “Pak jon, boleh saya bicara?”. Penulis menjawab, “Boleh pak”. Beliau bertanya, “Mau di mana? Di sini atau di kamar saya”. “Di kamar bapak”, ujar penulis mantap. Akhirnya, dengan tangan bergetar sang ketua yayasan menuntun penulis ke kamarnya.
Dan akhirnya, penulispun tiba di kamar beliau yang sering menjadi tempat menyidangkan perkara. Tapi, penulis tak merasa ketakutan sama sekali. Oleh sang ketua yayasan, pembicaraanpun di mulai “Jadi begini pak jon, saya mau tanya sudah 3kali saya perhatikan khutbahmu itu sepertinya menginjak-injak kepala saya, jadi kalau memang kita sudah tak searah carimi tempat yang lain”.
Akhirnya, penulis merasa mantap untuk mengurus kepindahan di sulawesi tenggara. Namun, penulis berujar “ Saya, tidak merasa menyinggung bapak. Saya, hanya menyampaikan realita yang terjadi”. Setelah itu, kira-kira 2 hari setelah pemanggilan kepada penulis, penulispun berangkat ke Kendari tepatnya pada hari Senin tanggal 13 juni 2022. Mujurnya, karena secara kebetulan ada sepupu yang menikah. Sehingga, penulis punya alasan untuk ke Kendari membawa dan mengurus berkas.
Andai tidak ada sepupu yang menikah, mungkin penulis akan mencari skenario yang telah penulis siapkan. Dan, berdasar skenario tersebut penulis akan berada di kendari selama sepekan saja baru kembali. Dan, kebetulan penulis dibelikan ticket oleh sang adik di kota,  kendari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup