Kegiatan publik speaking dan hal yang takterduga

Oleh:Sujono said

Sebagai seorang yang sering mengikuti berbagai forum resmi sejak masih bersekolah hingga tulisan ini disusun. Sering kali penulis diminta untuk berbicara di depan umum. Terlebih, ketika penulis mengikuti forum seperti kegiatan perkemahan penyandang cacat yang dilaksanakan oleh PPCI tahun 2006 silam. Belum lagi, di berbagai pelatihan seperti sosialisasi relawan tik dan Training of writing and rekruitmen FLP Sulsel tahun 2011 silam. Ke3 even tersebut mengajarkan banyak hal pada penulis.
Kita mulai dari perkemahan penyandang cacat 2006, saat itu perkemahan akan ditutup. Jelang closing ceremony ternyata penulis dikerjain oleh 2 orang 1 orang guru yang tahu potensi penulis, dan 1nya lagi adalah mentor penulis. Ke2-2nya sudah kembali menghadap Allah☹. Jadi begini, waktu itu penulis dipanggil oleh kakanda Makmurkam lewat pengeras suara dengan kalimat seperti ini “Disampaikan kepada adinda Sujono said, harap ke sumber suara untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya”. Mendengar pengumuman tersebut, wajah penulis langsung pucat pasih.
Walau penuh ketakutan, penulis tetap naik ke panggung menghadap beliau. Penulis mengira, kalau diri ini telah melakukan kesalahan. Ternyata, penulis diminta mewakili peserta untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan. Sebagai yang belum pernah menyampaikan pesan dan kesan, penulis meminta bimbingan dan arahan dari Kakanda Makmurkam.
Akhirnya, penulispun menyampaikan pesan dan kesan walau penulis sadar secara retorika penulis belum punya wibawa. Namun, pada hari ini ketika penulis mengingat momen tersebut penulis sangat berterimakasih kepada almarhum Kanda Makmur dan Almarhum Kanda arman habib.
Ketika penulis mengikuti sosialisasi relawan tik, ada 1 sesi dimana setiap komunitas diminta memaparkan kontribusi mereka dalam hal pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Maka penulispun memaparkan secara gamblang materi yang penulis anggap perlu dan semua tertata.
Mengapa itu bisa terjadi? Karena, penulis lebih siap. Berbeda lagi dengan ketika penulis dan 3 orang rekan tunanetra lainnya mengikuti training of writing and rekruitmen FLP sulsel. Ketika Almarhum bunda Pipit senja meminta salah1 dari kami untuk sharing ke3 teman penulis malah menunjuk penulis. Awalnya, penulis dalam keadaan blank. Lantaran blank, sudah pegang microphone penulis masih sempat bilang “ Saya mau ngomong apa ini?”. Akhirnya, dengan pendekatan keibuan bunda pipit senja bilang cerita dong mas gimana perjalanan menulisnya hingga hari ini๐Ÿ˜Š”.
Dan akhirnya, penulis bercerita dari awal menulis hingga berjodoh dengan forum lingkar pena. Sehingga, dengan presentasi tersebut, maka penulispun atasnama peserta dari kalangan tunanetra dikukuhkan sebagai anggota kehormatan forum lingkarpena oleh ketua FLP Unhas yaitu Ikbal tajrim.
Lalu, yang ingin penulis sampaikan jika ingin menjadi seorang publik speaker yang berkualitas paling tidak tidak malu-maluin maka kita harus banyak membaca, mendengar, dan memperbanyak latihan berbicara. Sehingga, dalam kondisi didadak pun kita bisa tetap sempurna menjadi publik speaker. Berbeda tentu, jika kita memang didaulat jadi pembicara jauh-jauh hari ketimbang 5menit lalu baru diminta tanpa tahu apa yang diminta untuk disampaikan. Kalau kita diberi tahu sebelumnya, mungkin kita lebih siap sebagaimana ilustrasi penulis pada beberapa paragraf sebelumnya.
Pada tahun 2019, ketika penulis mengikuti sarasehan gerakan literasi sekolah, penulis kembali memperoleh perlakuan kandang paksa tepatnya dikerjai oleh rekan sejawat. Padahal, yang ditunjuk oleh fasilitator untuk menjawab adalah rekan sejawat penulis. Tapi, malah microphone diopor ke tangan penulis. Ya! Tentu penulis agak shok lah ya๐Ÿ˜Š. Tapi, setelah menguasai diri kegiatan presentasi depan umumpun berjalan dengan lancarjaya dan berakhir dengan khusnul hatimah.
Terbaru, adalah kejadian tanggal 23 mei 2026. Saat itu, penulis mewakili sekolah untuk mengikuti pelatihan Kurikulum satuan pendidikan. Pelatihan berlangsung,  selama 2 hari, hari pertama penulis sebenarnya lebih mau fokus menyimak materi. Tapi, di hadapan penulis ada salah satu guru yang selalu menjadi maklar yang tugasnya memasok pertanyaan kepada peserta.
Sehingga, mau tak mau penulis harus mau bertanya dan hal itu terjadi sejak pagi hingga sore jelang pulang. Setelah itu, masuklah kita pada sesi rencana tindak lanjut(RTL). Dalam agenda RTL, kita dibagi menjadi 5 kelompok. Akhirnya, atas saran dari salah satu teman kelompok, maka penulis membuat draft dan mempresentasikannya esok hari dengan menggunakan LCD proyektor.
Keesokan harinya, penulis dengan Pdnya berbekal tongkat di tangan dan sebuah labtop penulis mengkoneksikan dengan LCD, dan terkoneksilah ke proyektor dengan sempurna. Akhirnya, presentasi diawali oleh rekan sejawat yang kemudian dilanjutkan dengan penulis. Namun, saat yang tak diinginkanpun terjadi pada saat penulis melakukan presentasi. Saat penulis menselect item yang akan dipresentasikan, sembari bertanya apakah terlihat atau tidak?. Ternyata, ada audience yang berteriak “Pak tidak kelihatan karena tidak ter zoom”. Hal itu, jujur merapuhkan mental penulis saat presentasi.
Namun, penulis tetap memberi pengertian sambil tetap mempresentasikan materi yang dibawakan bersama kelompok. Hingga akhirnya, karena kegiatan presentasi diselingi dengan penyelesaian masalah teknis, maka akhirnya no time for tanya jawab. Dalam kondisi tersebut, penulis rapuh serapuh-rapuhnya. Namun, syukur al-hamdulillah, kegiatan presentasi tetap berjalan,  maksimal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup