Menutup lembaran kelam
Oleh:Sujono said
Setelah penulis menjalani fit and proper test dengan pengurus yayasan, penulis langsung menemui keluarga yang telah menunggu di filla, setelah ketua yayasan keluar terlebih dahulu dari ruang rapat. Sesampai di filla, penulispun berpidato layaknya seperti melakukan press konference.
Maklumlah, mereka yang datang ini kan semua adalah wartawan sosial media. Kepada mereka, penulis menyampaikan keterangan pers sebagai berikut “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, mohon izin saya ingin menyampaikan bahwa setelah saya menjalani uji kepatutan dan kelayakan bersama pengurus yayasan tadi, alhamdulillah saya telah di terima untuk mengajar di sini. Untuk itu, terimakasih kepada seluruh keluarga yang juga merupakan wartawan sosial media😊 atas dukungannya”. Setelah konfrensi pers selesai, penulis dan keluarga meninggalkan SLB kusuma bangsa.
Penulis dan keluarga menuju rumah om di andonohu, setiba di Andonohu penulis langsung mendapat telephone dari timsukses di mantobua yaitu bang Ikhsanudin. Inti dari pembicaraan, penulis mendapatkan selamat dari bang ikhsanudin. Tapi, penulis belum tahu apakah timses dan pendukung dari makassar sudah tahu hal ini. Sebenarnya, nanti setelah rapat pembagian tugas barulah penulis ke makassar untuk berkemas. Namun, atas pertimbangan adik sehingga penulis akhirnya pulang ke selayar dulu, untuk pamit kepada papa yang telah kurang lebih setengah tahun terkena struk.
Sehari pasca mengikuti fit and proper test, penulispun digabung di group SLB kusuma bangsa. Namun, penulis juga masih bergabung di group Pendidik SLB yukartuni. Malam harinya, sang konsultan politik menelephone penulis dan menanyakan bagaimana skenario berikutnya. Atas pertimbangan tersebut, penulis akhirnya menyampaikan permohonan pamit kepada kepala sekolah dan ketua yayasan pada hari rabu tanggal 22 juni 2022 malam melalui pesan whatsapp secara resmi.
Adapun isi permohonan pamit penulis adalah sebagai berikut, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, kepada yang terhormat kepala sekolah SLB yukartuni, dan ketua yayasan usaha karya tunanetra Indonesia masing-masing di tempat. Lewat surat ini, saya ingin menyampaikan bahwa mulai tahun ajaran baru, saya tidak lagi mengajar di SLB yukartuni, karena saya telah diterima di salah satu SLB di kota kendari. Keputusan ini, adalah pilihan terberat yang harus saya pilih.
Namun, saya harus memutuskan memilih hijrah karena keinginan untuk mengajar di tempat dan suasana berbeda, bukan karena ada perbedaan antara saya dan ketua yayasan.
Demikian penyampaian saya untuk diketahui sebagai bentuk tanggung jawab saya secara moral. Terimakasih kepada ibu kepala sekolah yang telah mendukung saya selama saya mengajar, pun juga dengan ketua yayasan. Serta, taklupa saya memohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan.
Setelah penulis mengirimkan pernyataan sikap atas dinamika yang telah terjadi berbulan-bulan, maka pernyataan penulispun menuai respon yang beragam. Mulai dari respon shok dan sedih dari kepala sekolah, hingga ketua yayasan yang tidak keluar dari kediamannya ketika tahu kalau penulis datang ke asrama untuk mengambil properti dan berkemas sebagai tanda bahwa penulis akan hengkang dan hijrah menuju ke kehidupan baru yang syarat akan harapan dan tantangan.
Karena tahu kalau beliau tidak mau keluar rumah dan melaksanakan rutinitasnya, maka penulis sebagai bentuk tanggung jawab moral menemui sang ketua yayasan. Beliau menerima penulis dengan baik dan penu kehangatan. Walaupun, penulis tahu ada amarah dihati beliau karena sesuatu.
Kepada penulis, beliau menyampaikan begini “Pak jon, janganki lawan pimpinanta kasian:)( janganki kasi seperti saya kasian pimpinanta”. Ujar beliau, penulis pun merespon beliau dengan jawaban insya allah pak. Walaupun, penulis tahu kalau kalimat tersebut adalah ungkapan sakit hati dan kekecewaan beliau. Karena, beliau merasa kalah permainan oleh penulis. Padahal, permainan beliau sendiri yang dimainkan penulis ke diri beliau. Beliau, tidak pernah, memikirkan oranglain.
Beliau, tidakpernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain yang beliau adudomba dan korbankan ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi, penulis hanya berdoa dan berharap bahwa permainan politik beliau yang dibalikkan ke diri sendiri membuat beliau sadar bahwa seperti itulah rasanya ketika kita memainkan perasaan orang lain. Walau demikian, penulis sangat bersyukur kepada Allah. Karena, penulis mulai meniti karier pertamakali pada lembaga yang beliau pimpin.
Hingga akhirnya, penulis bisa hijrah ke kota kendari ke tempat mengajar penulis saat ini. Penulis bisa dapat tunjangan sertifikasi, dan fasilitas lainnya. Tentu, yang namanya manusia, punya banyak kekurangan, tapi juga memiliki jutaan kelebihan yang takboleh penulis abaikan.
Lembaran yang telah penulis torehkan selama 8 tahun meniti karier sebagai guru tidak semua kelam. Tentu, banyak cerita manis yang penulis peroleh utamanya pada 2 hingga 3 tahun pertama. Tapi, itulah cara Allah mewujudkan setiap keinginan hambanya. Utamanya, keinginan penulis hijrah ke sekolah yang berada di pedesaan. Mengajar siswa dengan lintas ketunaan bagai mana rasanya, toh sudah terjawab. Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis ingin sampaikan bahwa tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan person maupun lembaga. Melainkan, hanya untuk menyampaikan fakta yang penulis alami. Dengan tujuan, mengcounter narasi-narasi bejat dari sang penguasa, tirani.
Komentar
Posting Komentar