Memanfaatkan keaktifan sikecil

Oleh:Sujono said

Setelah anak kami Muwahhidul Hannan yang lebih akrab disapa Hannan berumur kurang lebih setahun setengah, sebagai orang tua kami memanfaatkan keaktifan dan kelincahannya. Memanfaatkan dalam artian memudahkan pekerjaan rumah, membangun kelekatan dengan anak, dan melakukan interaksi dan membangun hubungan emosional. Dengan tujuan, agar memiliki tumbuh kembang yang baik, bukan hanya secara jasmani. Melainkan sebagai bagian dari membentuk keperibadian. Sebagaimana dalam ilmu sosiologi, bahwa pondasi keperibadian anak adalah keluarga.
Ya! Keluarga terutama ibu adalah pondasi pertama dan utama bagi seorang anak. Dalam ilmu sosiologi, ada 3 tahap pembentukan keperibadian. Yang pertama yaitu imitasi atau meniru. Masa meniru, adalah fase yang dialami oleh anak kami Hannan, apa yang kami lakukan itupun yang ia lakukan. Pada fase ini, ibu bertindak sebagai mentor dan rol model, sedangkan penulis sebagai seorang ayah cukup dengan menjadi rol model atau teladan. Jadi, bundanya memberikan nasihat.
Lalu apa yang dinasihatkan bundanya? Yang dinasihatkan adalah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Jadi, ketika penulis dan sang isteri sudah mulai merasa bahwa anak kami sudah tidak bisa dilarang, maka akhirnya kamipun menjadikan keaktifannya sebagai sesuatu yang boleh dimanfaatkan. Contoh, ketika bundanya mengambil gelas maka Hannan akan menangis dan mengamuk. Sehingga, kamipun membiarkan Hannan mengambilkannya untuk diserahkan kekami.
Sejak itu, kami meminta Hannan layaknya sebagai asisten. Misal, ketika kami akan makan bersama, bagi Hannan tidak afdal kalau bukan ia yang menyerahkan makanan ke Hannan. Sehingga, untuk menghindari resiko seperti piring pecah maka Hannan cukup menyerahkan sendok kepada ayah.
Tahap yang ke2, adalah sosialisasi. Untuk sosialisasi, yang sering penulis dan isteri lakukan adalah menyampaikan nilai dan norma kepada Hannan sat bermain. Misal, Hannan! Jangan ambil bolanya Syafa nak! Itu tidak boleh. Walaupun, mama dari teman bermain anak kami bilang tidak apa-apa pak guru. Tapi, bagi kami itu bertujuan agar kebiasaan tidak terbawa sampai besar dan remaja.
Ke3, bersiap menerima norma, itu berlaku untuk anak yang sudah berusia 7 tahun keatas. Makanya, islam sebagai agama yang penulis dan keluarga anut mengajarkan agar para orang tua menyuruh anaknya shalat pada usia 7tahun. Jika belum bisa, maka kita dianjurkan menyuruh anak pada usia 10 tahun. Jika tidak mau, maka pukullah. Perintah tersebut, dalam perspektif sosiologi mengisyaratkan bahwa fase ini adalah fase dimana seseorang telah siap menerima norma.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup