Berderma dengan cara sendiri

Oleh:Sujono said

Sekitar tahun 2010 hingga 2015, penulis sering menyaksikan di TV lewat berbagai program realiti show seperti kick andy salah satunya. Banyak mengumpulkan dana lewat program-programnya.
Saat itupun, sosial media lagi buming-bumingnya walau belum semasif saat tulisan ini disusun. Sehingga, banyak gerakan dimobilisasi lewat sosial media seperti facebook, twitter yang sekarang telah bertranspormasi menjadi X, dan platform-platform media sosial lainnya.
Gerakan politik seperti penggulingan presiden Mesir Husni mubarak, hingga pengumpulan koin untuk prita mulia sari yang berhadapan dengan salah satu rumah sakit internasional di depan hukum juga dilakukan lewat media sosial. Pun juga, pengumpulan donasi untuk kegiatan sosial dan bencana alam dilakukan lewat media sosial. Hal tersebut, memudahkan person, lembaga dan komunitas menggalang dana.
Sebelum era sosial media, kegiatan penggalangan dana dilakukan lewat berbagai kegiatan yang mengumpulkan massa di suatu tempat. Entah dalam bentuk kegiatan amal, entah memanfaatkan area keramaian dengan menjual produk-produk mereka, melelang produk atau koleksi, hingga membawa proposal ke kantor-kantor seperti instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan tokoh publik serta bisnismen secara person ke rumah mereka. Sejak saat itu, semua lebih mudah.
Tahun 2015, semakin banyak komunitas sosial yang melaksanakan pengumpulan donasi dengan harta yang mereka punya, bahkan menjangkau para diaspora dan warga Indonesia yang berada di luar negeri. Lantaran saat itu, penulis punya data lengkap berdasar dari pengalaman menonton TV.
Sehingga, penulis sempat bilang ke ketua yayasan tempat penulis mengajar waktu di makassar bahwa pada waktunya, di yayasan ini akan datang bukan lagi dari toko, atau hotel dan orang-orang cina kaya yang datang bawa sumbangan. Tapi, yang datang itu dari komunitas yang mereka mengumpulkan uang dari kantong pribadi mereka sendiri. Jadi, tidak ada lagi istilah, mereka bergerak karena ada anggarannya sebagaimana anggapan bapak. Tapi, anggaran mereka upayakan sendiri.
“Masa ia pak jon? Kan uang pribadi itu buat cari makan dan seterusnya”. Respon beliau sangsi menanggapi penulis. “Tapi pak, itulah faktanya yang kudapat di TV-TV, tunggumi pak akan ada itu ke sini”. Ujar penulis tegas ke beliau. Setahun kemudian, alhamdulillah ucapan penulis terbukti 100 persen. Tapi, beliau tidak perna mengungkapkan pengakuan beliau akan kebenaran ucapan penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup