Dari puasa qada hingga puasa tasuah dan as-syurah

Oleh:Sujono said

Hari itu, sabtu13 juni 2026. Isteri penulis meminta izin untuk mengganti puasa ramadhannya dengan cara melakukan puasa senin kamis. Tapi, penulis katakan tidakkah sebaiknya puasa 8 hari yang kamu tinggalkan itu kamu ganti dari senin hingga senin berikutnya, ujar penulis kepada sang isteri.
Akhirnya, iapun mendengar saran penulis. Namun, yang membuat semua terasa barakah, karena hari puasa ke2 sang isteri bertepatan dengan 1 muharram. Selama bundanya anak-anak mengqada puasanya, penulispun bangun untuk mendampingi bersantap sahur. Yang istimewanya lagi, penulis minta agar sarapan pagi dan minum teh hangat dilakukan di waktu sahur, untuk apa?.
Agar bundanya anak-anak tidak lagi kerepotan menyiapkan sarapan pagi buat penulis. Penulis bisa rehat dulu bakda shalat subuh setelah itu tinggal minum air putih, atau kalau ada kue tinggal penulis makan dan minum air putih. Setelah itu, penulis berangkat ke sekolah.
Sepulang dari sekolah, penulis tetap dapat jatah makan siang walau bundanya anak-anak sedang dalam keadaan berpuasa. Selain itu, penulis boleh melakukan banyak hal selama mendampingi bundanya anak-anak. Mulai dari mengobrol mengenai rencana indah bersama keluarga, hingga menyelesaikan tulisan blogg yang telah dedline. Selain itu, penulis juga berkesempatan nonton youtube di subuh hari. Salah satunya, adalah diskusi yang diadakan oleh total politik di universitas gajah mengamuk eh gajah mada😊 yang berujung ricuh, karena dipicu oleh sesuatu dan lain hal.
Tapi, hal terkait diskusi yang berujung ricu tersebut tidak akan penulis bahas di blogg. Itu, akan penulis bahas ketika penulis menyampaikan gagasan di salah satu surat kabar pada waktunya nanti. Itupun juga, jika dipandang perlu dan seterusnya. Hingga akhirnya, sampailah pada hari terakhir bundanya anak-anak mengganti puasa. Setelah itu, penulis istirahat dulu selama sehari.
Setelah itu, penulis dan bundanya anak-anak bersama-sama melaksanakan puasa tasuah dan saat tulisan ini disusun penulis dan keluarga sedang melaksanakan puasa as-syurah. Ketika penulis dan isteri melaksanakan puasa tasuah kemarin, jelang berbuka penulis teringat akan sebuah momen yang ketika mengenang itu ada kebahagiaan yang penulis dan isteri rasakan. Karena, saat itu kami masih pengantin baru. Ya! Belum genap sebulan kami menikah, dan bertepatan dengan momen puasa tasuah dan as-syurah. Saat itu, adalah kali pertama melaksanakan puasa tasuah dan as-syurah berdua.
Namun, sebuah kesyukuran bagi kami. Karena, tahun ini kami dapat melaksanakan puasa tasuah dan as-syurah. Karena, 2 tahun kami tidak sempat melaksanakannya lantaran kami disibukkan oleh banyak hal. Ada yang berbeda, ketika melaksanakan puasa tasuah dan as-syurah tahun ini karena kami sudah ber3. Sudah ada putra semata wayang menjadi pelengkap keriuhan di rumah kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelang kelahiran putra pertamaku

Ketika berada di fase itu

Tegak lurus saja takcukup