Antara berita, kopi pagi dan sore hari
Oleh:Sujono said
Penulis, sudah mulai gemar membaca koran sejak berkenalan dengan dunia internet. Tepatnya, tahun 2005. Saat itu, penulis lebih banyak mengakses portal tetangga eh, salah😊 portal online dengan menghafal web adress seperti www.antaranews.com, www.republika.co.id, dan situs web lainnya. Setelah meninggalkan yapti dan living kost, penulis lebih banyak nonton berita di TV.
Hal tersebut, mulai terjadi sejak tahun 2009 hingga 2015. Ketika penulis menonton TV, walaupun penulis adalah tunanetra😊, penulis tidak pernah ketinggalan secangkir kopi. Terlebih, ketika menonton kabar pagi, dan apa kabar Indonesia pagi di TV one sebelum penulis berangkat ke kampus menjalani perkuliahan, bagi penulis kopi dan beberapa biji kue salju harus mendampingi penulis. Pun juga di sore hari, ketika menonton TV sepulang dari kampus menjalani perkuliahan.
Pun juga, di malam hari ketika menonton apa kabar Indonesia malam yang waktu itu dipandu oleh si presenter pintar dan cantik😊 siapa lagi kalau bukan tina talisa. Pun tidak afdal, kalau penulis tidak ditemani secangkir kopi hitam dan kue salju yang dihutang sama daeng layu sebelum waktunya eh berkembang😊, sebagaimana julukan penulis pada beliau. Terlebih, ketika topiknya menarik.
Tapi, jangan salah. Ada2 pilihan Tv berita yang boleh penulis tonton. Yaitu, TV one dan metro TV. Kalau di TV one, penulis punya presenter andalan namanya Tina talisa. Kalau di Metro TV, penulis punya presenter andalan seperti Nadia mulia, Andini efendi, dan afiani malik, kok perempuan semua ya?:). Itulah sumber informasi dan pengetahuan penulis, selain dari buku dan materi di internet.
Akhirnya, pada bulan juli 2016, dari gaji yang penulis kumpul, Allah berikan kemampuan untuk membeli HP Nokia e63. Dengan HP tersebut, penulis dapat menggunakannya untuk membaca berita.
Akhirnya, Januari 2017, Allah kasi rezeki untuk beli HP anroit. Sejak itu, perkenalan antara penulis dan aplikasi babe (Baca berita) bermula. Maka mulailah penulis membaca koran ditemani kopi tiap pagi dan sore hari. Bagi penulis, membaca koran walau lewat portal online, memiliki faidah tersendiri. Terlebih, koran adalah pengganti TV, selain itu membaca berita serta membaca artikel lain amat membantu penulis memperluas wawasan terlebih dalam kapasitas penulis sebagai seorang guru.
Jujur, dari sanubari terdalam penulis. Agak sedih rasanya ketika penulis menyaksikan guru-guru penulis entah di Yapti, maupun di sekolah reguler ketika penulis mendapati mereka membaca koran di bawah pohon sambil menghisap sebatang rokok dan segelas kopi sebelum mengajar di depan kelas.
Terkadang, penulis berujar “Enaknya, kalau kita punya mata. Kita bisa baca koran sendiri, tidak harus dibantu sama reader atau pembaca”. Tapi, ketika penulis ketiban rezeki akhirnya sadar bahwa ini adalah jawaban dari Allah. Setiap pagi sebelum mengajar, penulispun membaca koran lewat HP.
Pun juga, pada sore hari setelah penulis selesai mengajar, maka penulis membaca koran lewat portal online ditemani dengan segelas kopi. Terlebih, ketika penulis scrol tetiba mendapatkan judul berita yang membuat kopi hitam lancar jaya turun ke kerongkongan, lantaran topiknya menarik.
Penulis, tentu punya selera berbeda dengan yang lain. Kalau ada yang suka dengan berita gosip selebrity, ada yang suka berita bola, ada yang suka dengan berita kriminal, maka penulis suka dengan berita politik. Karena, bagi penulis politik itu asyik. Terlebih, ketika kita menyaksikan tindakan sang publik figur atau sang politisi menjadi judul berita dan hedline di berbagai surat kabar.
Misal begini, tahun 2018. Pak SBY, dan pak Yusuf Kalla bertemu di kediaman pak SBY. Saat itu, setahun jelang pemilu 2019, seusai pertemuan mereka menjawab pertanyaan wartawan dengan caranya masing-masing. Ketika pak JK yang ditanya, beliau cuman bilang kalau pertemuan ini cuman silatur-rahmi biasa. Cuman saling tanya, bagaimana kabar anak dan cucu masing-masing.
Ketika pak SBY yang ditanya, beliau cuman bilang enggak kok. Di, dalam, tadi cuman makan-makan, abis itu ngopi, itu aja sih. Itulah yang bikin seru, karena para pengamatpun mengeluarkan spekulasinya, entah lewat surat kabar, maupun lewat program wawancara. Walaupun, bacaan mereka hanya lewat media saja. Tapi, apa yang menjadi prediksi mereka sebagian besar benar adanya.
Sejak penulis punya anroit, maka yang diinstall bukan hanya babe semata. Penulis juga menginstall berita sulsel sebagai aplikasi yang di dalamnya menyajikan berita dari media lokal.
Bahkan, ketika penulis hijrah ke sulawesi tenggara, dan masih membaca aplikasi berita sulsel rasanya ada yang kurang. Akhirnya, tanpa menghapus berita sulsel, penulis juga menginstall berita sultra. Sehingga, sambil mengikuti perkembangan terkini di tempat tinggal saat ini, juga tetap mengikuti perkembangan sulawesi selatan sebagai kampung halaman. Hingga kini, ke2 aplikasi berita tersebut masih penulis pakai. Saat tulisan ini disusun ke2 aplikasi tersebut masih memberikan informasi yang akurat kepada penulis. Sehingga, penulis boleh mengikuti kondisi sultra dan sulsel.
Maka dengan begitu, penulis boleh tahu kondisi di sultra, pun juga penulis boleh tahu kondisi di kampung halaman penulis di sulawesi selatan utamanya Selayar yang sepertinya tak lama lagi akan memisahkan diri dari provinsi sulawesi selatan kemudian membentuk provinsi yang, baru.
Komentar
Posting Komentar