Laku spiritual dalam hidup dan kehidupanku
Oleh:Sujono said
Penulis adalah anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang menerapkan nilai-nilai religius. Jadi, penulis beserta ke2 adik setiap hari dicekoki nilai-nilai tersebut. Indikasinya, jadi ketika kita menyampaikan sebuah pernyataan harus ada indikasinya ya😊, adalah mereka selalu melaksanakan shalat berjamaah di rumah terutama, pada waktu magrib. Kamipun, taklupa diajaknya.
Selain itu, mama selalu mengumpulkan penulis dan adik-adik sambil ngeteh dan memperoleh wejangan agama. Pun juga dengan papa, beliau sering mengumpulkan kami sambil bercerita tentang kisah para nabi yang masih terngiang di telinga penulis. Ada beberapa yang masih terngiang, seperti kisah nabi ibrahim alaihis-salam, Nuh alaihis-salam, Musa alaihis-salam, Yusuf alaihis-salam, Ayyub alaihis-salam, dan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai khatamul anbia.
Dari kisah-kisah tersebut, penulis hingga hari ini menjadikannya pelajaran hidup. Terlebih, ketika penulis telah menjadi guru sejak tahun 2014 hingga menikah dan dianugerahi seorang anak lelaki tampan, rupawan, dan cendekiawan seperti bundanya😊. Selain itu, Mama selalu menanamkan kepada kami pentingnya menjaga adab dan integritas, pentingnya berlaku jujur, bahaya mencuri, bahaya berbohong, dan bahaya mengambil sesuatu yang bukan muhrim eh bukan milik kita😊.
Selain itu, di rumah kami setiap habis shalat magrib selalu mendengarkan ceramah Kiai Haji Zainuddin MZ melalui radio cempaka Asri Bulukkumba yang jangkauannya kala itu sampai ke selayar yang kini telah berganti menjadi radio suara panritalopi bulukkumba. Lewat ceramah KH Zainuddin MZ, juga banyak pelajaran hidup yang penulis peroleh dan terapkan hingga hari ini.
Ketika penulis masuk SMP di SLB Yapti Makassar, nilai-nilai tersebut masih terjaga. Karena, sirkel pergaulan penulis adalah mereka-mereka yang rajin shalat dan seterusnya. Terlebih, di Yapti ada Mushallah, sehingga kegiatan keagamaan setiap hari terlaksana. Awal tahun 2004, penulis sering diajak kawan untuk mengikuti taklim di salah satu Masjid di galangan kapal yaitu masjid nurul bahri.
Sehingga, sejak itu, penulis akhirnya ikut-ikutan jadi extrimislah kalau boleh dibilang, kan lagi nyari jati diri😊. Tapi, jelang tahun 2005, penulis sempat terjangkiti oleh perilaku hedon. Sehingga, yang tadinya aktif di mushallah akhirnya jauh dari mushallah. Ketika teman-teman belajar mengaji, penulis malah memilih main gitar di asrama. Mengapa? Karena, kala itu penulis baru belajar main gitar. Yang menurut penulis, lebih diterima di masyarakat, karena selama ini hanya tahu main key board.
Namun, penulis ditegur oleh Allah. Dan akhirnya, pada tahun 2005 tepatnya pada awal ramadan penulis mengikuti pelatihan kader di salah satu organisasi otonom muhammadiah yaitu IRM yang kini kembalih ke fitrahnya di awal berdiri yaitu IPM. Pelatihan tersebut, berlanjut dengan follow up berupa kegiatan pengajian yang menghadirkan ulama-ulama internal muhammadiah sekecamatan tallo, muhammadiah sekota Makassar, hingga tokoh-tokoh muhammadiah se Sulawesi selatan.
Akhirnya, setelah selesai mengikuti pelatihan kader taruna melati 1, penulis kembali rajin shalat. Tapi, ada yang berubah. Apaantu? Ketika jadi imam, basmalanya yang selama ini dikeraskan jadi dikecilkan😊. Muhammadiah gitulo😊, astagfirullah itu ria’ jangan begitudong!😊. Tapi, rupanya setelah pertaubatan usai penulis dapat SP2 dari Allah☹. Karena, rupanya penulis lalai.
Kelalaian itu adalah penulis menjadi pemalas dan menjadi pembangkang kepada orang tua. Salah 2 kemalasan yang penulis perbuat adalah menumpuk-numpuk cucian dan ketika diberitahu oleh orang tua malah melawan dan membuat airmata mama tumpah kebumi☹. Lantaran penulis terlalu semangat berorganisasi, namun malas mengurusi diri sendiri. Waktu itu, penulis masih SMP.
Akibatnya, terjadilah hal yang membuat penulis harus menindak lanjuti SP2 dari Allah dengan banyak-banyak berbenah, dan banyak-banyak mengasah diri dan setelah itu new normal life dimulai. Ketika penulis, masih SMP, penulis masih aktif di IRM, selain aktif berorganisasi sebagai pimpinan cabang, penulis aktif mengikuti pengajian. Setelah penulis bersekolah di sekolah umum, penulis sudah jarang ikut pengajian di komplex perguruan Muhammadiah tallo karena kesibukanlah yang menuntun penulis untuk menyiapkan diri sebagai siswa tunanetra yang bersekolah di sekolah umum.
Namun, di tengah kesibukan terkadang ada yang kering. Apa itu, rasanya kalau kita fokus pada jasmaniah saja tidak imbang jika ruhaniah tidak diberi asupan. Maka, setiap malam jumat, penulis sering mengikuti ceramah seorang ustadz yang lama jadi pengusaha di arab tepatnya di Madina.
Ya! Beliau adalah Ustadz abdul aziz husain manaf,seorang yang membangun masjid al-ijabah di jalan Gatot subroto 5. Itu, berlangsung sejak penulis kelas 11 hingga kelas 12. Karena, waktu penulis masih kelas 10, penulis aktif mengikuti pengajian mingguan di sekolah yang diasuh oleh ustadz Abdul samat, seorang guru agama dari Nahdatul ulama. Lalu,tahun 2009, penulis meninggalkan yapti karena harus living kos dan berkuliah. Lagi dan lagi, penulis dijangkiti firus hedonisme part2☹.
Setelah masuk smester2 di perkuliahan, akhirnya penulis kembali rajin shalat lagi, hal itu terjadi terus menerus. Hingga akhirnya, penulis masuk semester5. Di semester5, Allah pertemukan penulis dengan forum lingkar pena, dan di forum itu girah penulis beribadah kepada Allah makin tinggi. Penulis, makin rajin melaksanakan shalat 5waktu secara berjamaah di masjid almuslimun dan makin memegang kokoh nilai-nilai hidup bermuhammadiah hingga menikah dan dikaruniai seorang anak.
Hingga akhirnya, Allah membimbing penulis lewat ia memanggil pulang mama tercinta saat penulis akan menyelesaikan perkuliahan dan setahun kemudian, penulis akhirnya allah takdirkan menjadi seorang guru di sebuah SLB. Sejak itu, penulis banyak belajar. Belajar untuk jeli melihat kuasa ilahia lewat berbagai peristiwa. Salah satunya, ketika kewalahan wara wiri urus skripsi😊.
Sejak saat itu, penulis sering menggunakan waktu-waktu terbaik untuk berdoa. Itulah salah satu dari sekian banyak laku spiritual penulis. Makanya, penulis sering menggunakan waktu seperti jelang sahur dan buka untuk meminta kepada Allah, pun juga ketika hujan deras, penulis meminta kepada allah dan al-hamdulillah terkabul. Selain itu, yang penulis lakukan adalah shalat duha sebelum mengajar. Mengapa? Karena, salah satu fadilah dari shalat duha adalah dimudahkannya rezeki.
Selain menjalani laku spiritual sebagaimana telah banyak diurai diatas, penulis juga masih memegang lokal wisdom dari kampung penulis di selayar. Misal, kalau diajak makan sebelum berangkat, makan dulu. Dengan harapan, dihindarkan oleh Allah dari musibah. Kemudian, sebisa mungkin tidak mengurus sesuatu yang agak berat di hari-hari tertentu seperti hari selasa dan jumat.
Ada juga pertanda yang penulis masih percayai dan ini juga adalah lokal wisdom. Apa itu? Ketika tangan kanan yang gatal, penulis akan menerima rezeki. Selain itu, ketika telinga kanan yang berdenging, maka pertanda kabar baik akan didengar. Sebaliknya, jika telinga kiri yang berdenging, maka kabar kurang enak yang akan terdengar. Dulu, penulis hanya acuh tak acuh pada tanda-tanda tersebut. Tapi, dalam praktiknya penulis sering mengalaminya, akhirnya dipegang hingga kini.
Jadi, kaitannya dengan lokal wisdem, ini berdasar permenungan dan analisa penulis bukan praktik mensyarikatkan atau menyekutukan allah. Melainkan, semua ini adalah tanda-tanda ilahiah. Pun juga, ketika kita sebisamungkin untuk tidak mengurus sesuatu di hari-hari tertentu, itu bukan karena harinya yang tidak baik. Melainkan, hal tersebut adalah ikhtiar kita untuk menghindarkan diri dari bala dan musibah. Walaupun, bala dan musibah pasti terjadi jika Allah menghendaki.
Tetapi, sebagai manusia kita hanya melaksanakan lakon kita yaitu berusaha setelah itu bertawakkal kepada Allah. Beda hal, jika kita misal mempercayai bahwa hari selasa dan jumat adalah hari apes, maka itu, adalah musyrik. Atau, jika kita meyakini bahwa kalau kita tidak makan sementara kita telah ditawari makan kita akan celaka, itu juga adalah musyrik atau menyekutukan Allah.
Itulah yang penulis dapat jelaskan kaitannya dengan laku spiritual, so ketika kita berbicara laku spiritual, bukan hanya soal bagaimana mengamalkan ajaran agama. Melainkan, juga bagaimana kita mengamalkan lokal wisdem yang juga sebenarnya adalah proses pengejawantahan dari ajaran agama yang disampaikan oleh mereka yang telah menyiarkan agama islam ke seluruh pelosok negeri, tanpa meninggalkan lokal wisdom yang hidup di tiap-tiap daerah sehingga dapat diterima, masyarakat.
Komentar
Posting Komentar