Antara pemain elektone dan menjadi guru SLB di antang kassi
Oleh:Sujono said
Saat itu, tepatnya pada bulan juli 2014. Papa sudah mulai was-was dengan nasib penulis di Makassar. Karena, tidak ada kejelasan. Keinginan untuk berkiprah di lembaga bantuan hukum tidak terlaksana. Hingga, pada akhir bulan juli 2014, beliau akhirnya bilang kalau tidak ada kejelasan pulang saja ke selayar jadi pemain elektone, karena banyak alat yang butuh pemain. Selain itu, kamu juga bisa berpenghasilan. Saat itu, penulis baru saja diwisuda tepatnya, seminggu sebelum ramadan tiba.
Kemudian, tepat pada hari kamis tanggal 31 juli yang secara kebetulan masih dalam suasana idulfitri, penulis melakukan silatur-rahim dengan sesama alumni yapti dan secara kebetulan juga berkunjung ke pak Usman hafid sanggana sebagai salah satu tokoh tunanetra yang banyak memberikan kontribusi dalam kesejahteraan dan kemajuan tunanetra Makassar dan sulawesi selatan.
Salah satu kontribusi beliau, adalah keberadaan yayasan usaha karya tunanetra Indonesia yang berada di antang kassi. Dulu, yayasan tersebut hanya menyediakan program kursus pijat dan interpreneurship. Namun, sejak tahun 2008, sudah memiliki Sekolah luarbiasa dari jenjang SD sampai SMULB. Secara kebetulan, teman penulis yang bernama firman mengajar di sekolah tersebut.
Sore itu, sebelum penulis dan teman-teman bertemu pak utsman, kami melaksanakan shalat ashar berjamaah. Setelah shalat ashar, firman bertanya ke penulis jono mauko mengajar di sini? Penulis menjawab mau kalau diterima dan saya sebenarnya sekarang sudah lebih mau banting setir untuk mengajar ketimbang yang lain. Terlebih, ketika penulis sering membuka kelas training dan sempat melakukan pengabdian masyarakat lewat program mengajar bahasa inggris di sekolah-sekolah selama menjalani KKN. Akhirnya, penulis sempat bilang saya mau mengajar di pesantren atau SLB swasta. Oleh Allah lewat firman jawaban tersebut muncul dan disampaikan ke pak utsman.
Oleh pak utsman, penulis telah diberi lampu hijau. Namun, tentu semua memerlukan proses demi proses. Sejak itu, penulis menyampaikan hal tersebut ke papa dan papa mau menunggui penulis. Tapi, setelah kurang lebih sepekan papa menunggu akhirnya pada tanggal 8 agustus 2014, papa harus pulang ke selayar. Namun, 2hari setelah papa berada di selayar, akhirnya kejelasan tersebutpun tiba.
Pada hari minggu tanggal 10 agustus 2014, oleh firman menyampaikan agar penulis sudah boleh mulai melaksanakan tugas pada hari senin tanggal 11 agustus 2014. Saking senangnya, penulis menyampaikan kabar baik ini kepada papa yang ternyata keesokan harinya berangkat ke Makassar.
Akhirnya, pada hari senin tanggal 11 agustus2014 penulis diantar oleh ais untuk melaksanakan tugas secara perdana di SLB yukartuni. Syukurnya, walaupun penulis menjadi guru, tapi penulis tetap menjadi guru yang merangkap pemain elektone, terlebih itu adalah hobi penulis sejak masih SMP.
Sore harinya, ketika penulis tiba di rumah, tepatnya di bilangan Mangga3 permai penulis terkejut karena papa sudah ada di rumah. Padahal, setahu penulis beliau berada di selayar. Ternyata, beliau memang ke Makassar untuk suatu urusan mendampingi dato ti’no’ yang merupakan nenek penulis. Akhirnya, 2tahun penulis mengajar. Penulis akhirnya punya akses untuk memainkan alat musik elektone punya sekolah. Itupun, tentu penulis melalui perjuangan yang sangat panjang dan sangat menyiksa diri kata dian pisesa😊. Karena, tentu penulis dihadapkan pada banyak tantangan.
Kemudian, 1tahun setelah penulis mengakses elektone sekolah dan mengiringi salah satu siswa yang sering mengisi elektone ketika ada job di luar, kebetulan SLB yukartuni kedatangan siswa baru dari SLB di raha yang saat tulisan ini disusun yang bersangkutan telah menjadi isteri penulis.
Siswa baru ini, secara kebetulan dulu di kampung sambil sekolah juga berkarier sebagai seorang penyanyi kampung. Ketika yang bersangkutan telah berada di yukartuni, juga sering berkolaborasi dengan siswa lainnya dan penulis juga dibantu oleh salah satu siswa sebagai asisten player. Sejak, keberadaan yang bersangkutan, elekton yukartuni semakin memiliki daya tarik di masyarakat sekitar. Akibatnya, semakin sering mendapatkan job konser bersama penulis.
Bahkan, dengan kemampuan memainkan elektone, justeru membuat penulis diterima di sekolah yang sekarang ini menjadi tempat penulis mengajar. Itulah kisah tentang hobi mengajar dan hobi bermain musik yang membuat penulis dapat diterima sebagai guru SLB Kusumabangsa.
Akhirnya, penulis menghaturkan terimakasih kepada kakanda Zet Palalunan Tandi Pasau S.Pd, Gr, Saudara M.Fadli ismail yang tidak pake alaihissalam😊 tapi diganti dengan S.Pd,Gr, dan Kanda Nasrafuddin S.s. Karena, mereka-mereka inilah yang membantu penulis belajar untuk memainkan alat musik seperti key board dan gitar. Semoga, Allah senantiasa beri kesehatan ke mereka, amin.
Komentar
Posting Komentar