Rezeki pasca hijrah

Oleh:Sujono said

Tahun 2022, adalah tahun yang monumental bagi penulis. Karena, pada tahun itu, penulis dengan perkenan ilahiah melalui segala tanda-tanda yang diberikannya memutuskan untuk hijrah dari kota Makassar yang ramai dengan hirukpikuk kota menuju kota kendari yang syarat dengan nuansa pedesaan. Keputusan ini, tentu menimbulkan reaksi beragam. Baik dari keluarga, maupun dari kolega.
Dan ini, lazim terjadi. Sebagai mana dalam teori yang kita ketahui dalam hal interaksi sosial jika ada aksi, tentu akan memicu reaksi. Reaksi yang terjadi adalah mulai dari kaget dan bertanya, hingga menyangsikan atau meragukan penulis akan betah bertugas di bumi anoa. Namun, kesangsian ini adalah soal lain yang tak etis lagi penulis sampaikan, so baca saja tulisan-tulisan terdahulu di blog ini😊. Mas! Salah. Ini, bukan bocor alus bos!:( Gimanasi?. Tenang, biar makin banyak yang baca😊.
Back to the topic nggeh!. OK! Jadi setelah penulis bertugas di kendari, Allah memberikan kemudahan dan berkah yang bagi penulis luarbiasa. Pertama, penulis tinggal di kawasan yang syarat dengan suasana desa yang teduh. Kedua, apa yang menjadi pertanyaan penulis tentang bisakah seorang guru tunanetra mengajar siswa dengan hambatan intelektual pun terjawab sudah.
Berkah berikutnya, adalah kemudahan yang Allah berikan untuk menjadi lelaki pemberani yang bertanggungjawab secarajantan untuk menikahi pacar yang amat dicintainya😊. Nah, kayaknya penulis akan fokus pada bagian ini karena akan banyak hal menarik yang akan penulis kupas.
Alhamdulillah, setelah genap 1semester penulis mengajar di SLB Kusumabangsa, allah mudahkan penulis berlayar ke tanah muna bertemu om dan tante yang saat tulisan ini disusun sudah menjadi papa dan mama baik secara syariat islam, hukum positif, dan adat istiadat. Lalu? Ngomong apa ama om dan tante kala itu? Enggak, saya cuman concer ala shila on seven yang lagunya gini “Bapak bapak ku cinta anakmu jangan kau halangi aku. Bapak bapak bersiap sajalah, melepas buah hatimu😊.” Akhirnya, genap setahun penulis mengajar di SLB Kusuma bangsa, penulispun menikah.
Akhirnya, setelah menikah berkah berikutnyapun tiba. Saat penulis masih berbulanmadu, oleh ketua yayasan dan kepala sekolah yang kini telah menghadap Allah meminta penulis memasukkan berkas untuk pengajuan NUPTK. Alhamdulillah, saat usia kandungan sang isteri genap berusia 4 bulan, maka NUPTK pun alhamdulillah terbit. Setelah anak kami lahir, penulispun memperoleh undangan mengikuti pendidikan profesi guru tertentu. Dan saat anak kami genap setahun, panggilan pun tiba.
Ya! Panggilan untuk mengikuti pendidikan profesi guru di Universitas negeri manado (UNIMA). Hingga akhirnya, penulis memperoleh gelar GR. Setelah anak kami berusia 2 tahun tepatnya pada tahun 2026, kesejahteraan pun bukan hanya diperoleh dari pihak yayasan yaitu sebesar 500000 perbulan, namun sudah bertambah menjadi 2000000 perbulan langsung dari puslapdik kemdikdasmen. Namun, selama penulis memperoleh gaji dari yayasan sebagaimana diatas.
Alhamdulillah, selalu saja cukup untuk ber2 hingga anak kami berusia 2 tahun dan tunjangan sertifikasi mengalir tiap bulan ke rekening. Padahal, jika dipikir biaya hidup ber3 dengan bayi yang syarat akan biaya mahal selalu allah cukupkan. Pun juga, selama sertifikasi cair rasanya semua normal, tak ada yang wah, pola hidup isteri tidak gelamor. Mengapa? Itu adalah berkah dari Allah azzawajalla.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tegak lurus saja takcukup

Menutup lembaran kelam

Napaktilas PPG