Sempat dikira non muslim
Oleh:Sujono said
Pagi itu, kondisi kota Makassar sangat cerah. Punjuga dengan penulis, sangat prepare untuk menjalani agenda percintaan eh salah agenda perkuliahan di kampus 1 universitas Indonesia timur tepatnya di fakultas hukum. Tapi, pagi itu ada hal yang merusak mut penulis. Wah, apaantu?.
Ceritanya begini, pagi itu penulis tiba di Kampus melewati kantin terus melewati kampus 1 tepatnya jejeran 4 ruang kuliah fakultas hukum menuju loby kampus. Tetiba, lewat seorang perempuan yang ternyata berdasar sisa penglihatan penulis yang tinggal 5 wat adalah seorang pengguna cadar.
Saat sigadis bercadar ini lewat, ia berujar “Selamat pagi kak”. Yang ternyata, ucapan itu ditujukan pada penulis. Dengan ramah, penulis hanya berujar selamat pagi kembali dek. Walau terlihat ramah, sesungguhnya hati ini amatlah marah. Karena, diperlakukan layaknya seorang non muslim.
Akhirnya, setelah mata kuliah jam pertama usai, waktu dzuhurpun tiba. Penulis menunaikan shalat berjamaah di mushallah kampus 1. Dan rutinitas tersebut, sering penulis lakukan setiap ada mata kuliah yang ada jedahnya untuk shalat dzuhur. Kecuali, ada kuliah jam2 baru penulis pulang ke kosan untuk melaksanakan shalat dzuhur di Masjid almuslimun kelurahan buakana yang berdekatan dengan kostan penulis. Hingga beberapa hari kemudian, oleh suara yang sama sang cadaris.
Ya! Apa yang ia lakukan? Ucapannya berubah, yang tadinya ia berucap selamat pagi kak berubah menjadi assalamualaikum kak. Akhirnya, penulis berujar dalam hati baru tau ya kalau saya adalah seorang muslim yang berusaha taat kepada Allah.
Akhirnya, suatu hari ada seorang kawan penulis yang bicara jujur kepada penulis dengan berujar begini Sujono! Kalau koduduk sambil kokasi ketemu telapak tanganmu baru kopake kemeja bergaris baru kamu suka cukur pendek, makanya kamu dikira kristen😊. Jadi, karena penampilan yang seperti itu maka penulis sempat dikira seorang kristen taat😊. Dan itu, wajarlah terjadi.
Di lain kesempatan, penulis berdiskusi dengan rekan lintas fakultas. Secara argumen, penulis memang terlihat nasionalis bahkan terlihat seperti seseorang yang tidak punya agama atau sekular. Pada waktu shalat dzuhur, penulis bertemu dengan yang bersangkutan di mushallah kampus 1. Akhirnya, yang bersangkutan mengobrol dengan penulis sambil berujar begini jon, saya kira kamu itu kristen. Kenapa sabilang kamu kristen? Pertama, dari segi nama. Namamu jon, ke2 dari segi gagasan. Kamu, dimata saya terlihat nasionalis. Tidak ada embel-embel yang menerangkan kalau kau muslim.
Memang, namaku jon tepatnya dipanggil jono. Lengkapnya, Sujono said. Yang bersangkutanpun semakin terperanga dan kaget. Saya, memang suka cukur gundul, soal gagasan yang terlihat seperti nasionalis bahkan seperti seorang sekular, itulah saya ujar penulis kepada yang bersangkutan. Saya, seorang nasionalis, tapi islamik falue saya taruh di dadaku dan saya jalankan di kehidupanku. Lalu, saat penulis masuk semester 5 penulispun bertekad memanjangkan jenggot.
Komentar
Posting Komentar