Mimpi jadi penulis, sosiolog, dan motifator eh jatunya jadi guru

Oleh:Sujono said

Setiap orang, tentu punya cita-cita dan boleh bercita-cita setinggi apapun itu. Tapi, cita-cita itu harus diwujudkan, bukan dikhayalkan semata seperti khayalan si cebol. Sehingga, untuk mewujudkannya kita harus bersekolah, belajar bersungguh-sungguh, serta berdoa kepada tuhan yang maha esa. Penulis punya kisah terkait cita-cita sebagaimana judul tulisan diatas. Dulu, ketika penulis masih SMP, penulis bercita-cita kepengen jadi sastrawan. Dan karena doyan ngobrol bahasa Inggris sok cas cis cus, walau grammer, structure dan tata bahasanya kurang sesuai hajaaaar!.
Lalu, sejak SMU. Penulis suka banget dengan pelajaran sosiologi. Dan akhirnya juga pengen jadi penulis, dan pengamat sosial yang kerjjanya berceloteh di koran, majallah, dan buku. Tapi, ketika penulis akan masuk ke bangku kuliah, secara kebetulan ada sebuah kampus yang namanya Universitas Indonesia Timur yang baru berdiri di Makassar pada tahun 2000han. Kira-kira, baru 9 tahunanlah berdirinya, kan penulis masuk kuliah tahun 2009. Maka, masuklah penulis mendaftar di sana.
Mengapa penulis memilih kampus tersebut? Karena, menurut penulis kampus lain sudah banyak tunanetra yang masuk seperti Universitas 45 yang sekarang berubah nama jadi Universitas Bosowa. Universitas Muslim Indonesia(UMI), Universitas Muhammadiah(Unismuh), Universitas Islam negeri Makassar(UIN),Universitas Negeri Makassar(UNM), Universitas Hasanuddin(UNHAS), Universitas Islam Makassar(UIM) dan Sekolah tinggi Teolohia(STT) Jefri. Ceritanya, penulis ingin membuat sejarah sebagai tunanetra pertama yang berkuliah di Universitas Indonesia timur saat itu.
Ketika penulis mendaftar, ternyata semua jurusan yang penulis ingini tidak ada di Universitas Indonesia Timur, maka dengan terpaksa kalaitu masuklah penulis di fakultas hukum jurusan Hukum pidana. Kala itu, jurusan hukum adalah sesuatu yang menakutkan bagi penulis. Karena, selentingan rumor di luar sana mengatakan bahwa kalau mau kuliah hukum harus hafal undang-undang dan harus menguasai undang-undang katanya. Ternyata, rumor itu 100 persen adalah fakta.
Tapi, apakah penulis selama kuliah menghafal undang undang? Berapa undang-undangkah yang penulis kuasai? Tidak ada. Penulis hanya tahu pasal perpasal. Kata dosen, lebih baik hafal qur-an daripada hafal KUHP, dan KUH perdata. Tapi, kalau mau jadi praktisi hukum seperti jaksa, lawyer, PPAT(Pejabat pembuat akta), notaris, dan hakim memang harus banyak menguasai undang-undang. Walau demikian, penulis juga belajar sedikit-sedikit mengenai azas-azas hukum seperti azas legalitas. Sebagaimana dalam pasal 1 ayat 1 Kitab undang-undang hukum pidana.
Nah! Ternyata, bagi penulis belajar azas hukum itu penting, karena berguna di kemudian hari paling tidak jadi pengetahuan. Ternyata, ketika penulis jadi seperti sekarang ini jadi apaya? Bagi yang jeli membaca judul diatas sudah ketahuan😊. Tapi, nanti akan ketahuan di akhir cerita bukan akhir masa jabatan apalagi akhir hayat hehe😊. Jelasnya, azas-azas ini bergunalah ya!.
Jadi, izin penulis set ke belanda eh ke belakang😊. Ketika penulis tidak bisa masuk ke jurusan yang diingini, demi cita-cita nan mulia rasanya dunia akan runtuh. Tapi, al-marhum mama yang menguatkan udaya nak! Masuk hukum ajalah katanya kala itu. Akhirnya, penulis ridha dan ikhlas, walau ikhlas itu kan tuhan yang menilai bukan kita. Dan semua itu, nampaknya berbuah manis.
Akhirnya, dengan keikhlasan itu penulis bertemu matakuliah Sosiologi Hukum ketika sudah masuk di semester4. Rasanya, mendengar kata Sosiologi bawaanya mau jingkrak-jingkrak. Tapi, hal yang berlebihan oleh agama dan etika adalah sesuatu yang amat terlarang. Nah! Sosiologi Hukum itu menjelaskan tentang bagaimana hukum tidak hanya patuh pada undang-undang, tapi juga mempertimbangkan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat (Law living).
Akhirnya, tahun 2010, tepatnya pada smester2. Kebetulan, penulis sering menyaksikan sebuah program motifasi lewat layar TV dengan take line salam super. Walau sebelumnya, penulis,  sudah sering dengar motifator seperti Andrie wongso, JamesQ, Antony Diomartin, Hari Ginanjar agustin, dan lain sebagainya. Lalu kenapa penulis pengen jadi motifator? Kata teman, motifator itu honornya gede.
Akhirnya, penulis sering mengisi kelas-kelas training dan motifasi ke teman-teman di komunitas tunanetra kala itu. Kemudian, pada tahun 2011 ke 2012 penulis bergabung di sebuah organisasi kepenulisan. Penulis semakin bersyukur, karena tanpa harus kuliah di jurusan Sastra pun penulis tetap punya jalan untuk tahu banyak tentang kesusastraan. Justeru, bakat menulis lengkap dengan ilmu kepenulisan yang penulis pelajari mengantarkan penulis menjadi guru sejak selesai wisuda 12 tahun silam hingga kini. Jadi, dari cerita diatas, penulis hanya ingin berpesan bahwa silakan bercita-cita setinggi langit. Tapi, cita-cita bisa tercapai dengan kerja keras dan doa.
Lalu? Kalau ternyata ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai harapan bagaimana? Ikhlas saja, karena tuhan tahu apa yang baik bagi kita. Toh banyak yang seperti itu, kita tahu Helmi Yahya misal dulu kuliah akuntan di Sekolah tinggi administrasi negara, tapi dengan bakatnya di dunia intertain, publik speaking, dan lain-lain hiduplah beliau dari situ. Pun juga dengan penulis, walau sudah jadi guru tapi masih tetap berkeinginan jadi Trainer dan publik speaker. Apa yang ingin penulis capai? Apa karena masih ingin honor gede? Tentu tidak. Melainkan, penulis ingin apa yang menjadi gagasan dan ide-ide yang penulis punya sampai ke khalayak. Hal itu, juga membuat penulis sampai hari ini selalu ingin menulis. Karena, banyak ide-ide penulis yang ingin penulis,  tuangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menutup lembaran kelam

Memanfaatkan keaktifan sikecil

Napaktilas PPG