Mengenang kebersamaan dengan KH Muhammad na'im

Oleh:Sujono said

Siapa yang tidak kenal dengan Kiyai Haji DRS Muhammad na’im? Bagi masyarakat umum, utamanya yang hidup di era 90han. Beliau adalah seorang ulama karismatik. Selain menjadi dai, ia memulai karier sebagai perwira polisi. Sedangkan di kalangan tunanetra, beliau dikenal sebagai ketua yayasan Pendidikan tunanetra Islam yang berubah nama menjadi yayasan pendidikan tunanetra Indonesia dan terakhir menjadi yayasan pembinaan tunanetra Indonesia(YAPTI) sejak 1986 hingga 2006. Kalau teman-teman Yapti, utamanya yang telah lama berkecimpung, sudah mengenal beliau.
Sedangkan penulis, baru mengikuti beliau sejak tahun 2003, kala itu ia mengajak para binaan mengikuti shalat jumat keliling. Dimanapun beliau mengisi khutbah jumat, kamipun pasti diikutkan. Pertama kali penulis diajak, kala itu oleh kepala panti guna yaitu pak Ishak BS, penulis agak shok karena penulis langsung diajak. Terlebih, ketika pak Ishak bersama penulis dan beberapa binaan menjemput beliau di rumahnya yang beralamat di jalan Ade irma nasution. Lalu, berangkat ke Jalan Salemo.
Masjid yang pertama kami datangi yaitu Masjid Wahyu yang beralamat di jalan Salemo. Entah masjid apa yang penulis and friend datangi pada jumat ke2 dan seterusnya. Jelasnya, kami pernah shalat jumat di kantor BI, kemudian di Bosowa group, masjid al-afiah yang berada di lingkungan dinas kesehatan, masjid bukit baruga, dan masih banyak lagi. Selama penulis mengikuti khutbah beliau dari masjid ke masjid, banyak hal yang penulis peroleh. Dan ternyata, berpengaruh besar bagi diri penulis.
Ketika di mobil, beliau juga sering bercerita tentang bagaimana seharusnya kita memiliki visi, yang diwujudkan dalam bentuk missi dan diejawantahkan dalam bentuk ikhtiar dan tawakkal kepada Allah. Selain itu, beliau juga banyak mengajarkan doa-doa yang tentu bermanfaat bagi penulis.
Hal lain yang penulis ingat, ketika di mobil dalam perjalanan, beliau menyampaikan bahwa shalat jumat itu tidak harus menunggu jumlah jamaah sampai 40 orang. Yang penting, sudah ada yang adzan, ada khatib, ada imam, dan ada jamaah. Jadi, 5 orang shalat jumat sudah bisa terlaksana. Hal itulah yang menjadi dasar penulis ketika dimintai pendapat apakah masjid ummi maktum sudah bisa digunakan shalat jumat ketika baru berdiri pada tahun 2016 silam. Tapi, lantaran penulis bukan ulama terkemuka, maka pimpinan meminta pendapat kepada ulama yang kredibel, untuk menguji argumen penulis.
Dan akhirnya, argumen penulis terbukti kebenarannya, sehingga saat itulah masjid ummi maktum digunakan untuk melaksanakan shalat jumat. Itu, adalah 1 dari sekian hal.
Izin yang mulia! Penulis mau flash back ke belakang, penulis sudah mulai dengar nama beliau dari alumni Yapti yang tak lain dan tak bukan adalah guru mengaji penulis di Bulukkumba. Nah! Ketika baru sehari tinggal di Yapti, kebetulan sore-sore penulis duduk-duduk di ruangan telephone. Tetiba, telephon berdering, maka penulis menjawab telephone bukan sekadar mengangkat telephone😊.
Ketika tersambung, terdengarlah suara seperti pejabat departemen agama dengan suara seperti ini assalamu alaikum, waalaikum salam jawab penulis. Dari siapa? Tanya penulis. Dari Muhammad na’iiiiiiiim. Saat itu, penulis langsung tersadar. Ingat dengan cerita kak anci, ingat juga cerita papa ketika mendengar beliau berceramah di Masjid abri dalam acara shalat tarawih ketika penulis masih tinggal di desa. Pokoknya, ingat semualah literatur yang penulis punya kala itu.
Malam harinya, penulis langsung mendengar ceramah beliau di kantor PPCI yang sekarang menjadi PPDI saat beliau mengisi pengajian bulanan. Lalu, 6 bulan kemudian tepatnya pada bulan desember 2003, penulis sudah mulai ikut bersama beliau kemanapun beliau membawakan khutbah jumat. Kebersamaan itu, berlangsung hingga tahun 2007 hingga akhirnya beliau sakit parah.
Itu, kebersamaan dalam mobil saat mengikuti beliau dari masjid ke masjid kayak program titian ilahi yang RRI Makassar punya😊. Perna pula, penulis beberapa kali bertandang ke rumah beliau,  untuk berziarah karena lebaran idul fitri. Penulis dan beberapa teman malah merasa lebih efektif berdiskusi dengan beliau di rumahnya ketimbang di mobil. Di situlah, penulis lebih tahu beliau secara personal.
Walau pun beliau adalah mantan pejabat, beliau tidak pernah berkata kasar. Jadi, ada 1 momen ketika penulis bersama rombongan binaan berziarah ke rumah beliau, kebetulan kami bawa mitra. Kepada sang mitra, beliau tidak bilang eh kobantu ibu dulu nak angkat itu minum sama kuenya. Tapi, beliau dengan cirikhasnya bilang baaantu ibu dulunak!. Akhirnya, minuman dan penganan khas lebaran sampai ke meja tamu beliau dengan izin Allah. Setelah itu, hidangan dibagi sesuai SOP.
Namun, yang paling menyedihkan, adalah ketika penulis menjenguk beliau di rumahnya. Tapi, beliau sudah mulai lupa dan tidak kenal siapapun. Di situlah hati penulis hancur sehancur-hancurnya. Karena, setahu penulis beliau selalu berbicara, bahkan tidak pernah kehabisan bahan. Namun, itulah ketentuan Allah yang sudah berlaku. Sejak itu, beliau tidak lagi pernah mengisi khutbah jumat. Bahkan, ada 1 momen saat penulis dan teman-teman akan melaksanakan shalat jumat di Masjid syurah diumumkan bahwa yang akan menjadi khatib adalah KH DRS Muhammad na’im, namun berhalangan.
Saat kejadian tersebut, penulis amat sedih. Hingga, dengan penyakit beliau ditambah dengan faktor usia dan sudah ketentuan Allah, beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun 2015 di awal bulan ramadan. Saat itu, Yapti sangat kehilangan karena jasa beliau selama kurang lebih 20 tahun menahkodai Yapti dan menjadi ayah dan guru bagi kami semua utamanya penulis.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menutup lembaran kelam

Memanfaatkan keaktifan sikecil

Napaktilas PPG