Cerita dari mushalla husnul khatimah SMUN4 makassar
Oleh:Sujono said
Kala itu, penulis baru nyaris 2 bulan berseragam putih abu-abu di SMUN 4 Makassar. Namun, momen yang penulis alami adalah rangkaian dari momen sebelumnya. Tepatnya, ketika penulis menjadi the secon winner dalam lomba da’i antar siswa se SMUN4 Makassar. Hingga suatu sore, penulis mengikuti pengajian di Mushallah Husnul khatimah. Hingga akhirnya, ada satu kejadian.
Saat itu, sang ustadz yang akan mengisi pengajian masuk ke dalam Mushallah. Kemudian, menyalami penulis seraya berujar “Kamu entar nggantiin saya ya”. Penulis pun shok, dan saat beliau membuka pengajian sampai selesai beliau sering manggil penulis ustadz Sujono. Penulis sampai menyimpan tanya. Akhirnya, penulis bertanya tentang siapa beliau, salah seorang kakak kelas menjelaskan beliau namanya ustadz samat. Tepatnya, Ustadz abdul samat salah satu guru agama.
Beliau memang menurut penulis bagus dalam menyampaikan ceramah, sehingga penulis banyak mengambil ibrah dari beliau. Terkadang, pengajian dilaksanakan di kelas 2 IPA 1. Apa yang menjadi ceramah beliau, baik di Mushallah husnul khatimah, maupun di IPA1 berdampak bagi penulis.
Ya! Sampai hari ini. Bagaimana beliau menceritakan tentang pentingnya menjadikan iman sebagai polisi rohani. Yang membuat penulis masih mengamalkan hal tersebut, hingga kini. Misal, ketika penulis dapat uang, penulis menjelaskan kepada isteri sumbernya dari mana dan seterusnya.
Selain itu, sebisamungkin penulis tidak melakukan tindakan yang merugikan walaupun tidak dilihat oleh siapa-siapa. Tapi, Allah yang maha melihat setiap tindakan kita. Itulah, yang oleh Ustadz samat sebut sebagai polisi rohani. Selain itu, beliau bercerita tentang pentingnya berbuat baik dan menaruh hormat kepada ke2 orang tua. Salah satu cerita beliau yang penulis ingat, adalah seorang yang telah sukses, namun isterinya sering masuk rumah sakit. Hingga akhirnya, sebuah kesalahan diingatnya. Ia, sering mencuri uang ibunya ketika masih kanak-kanak, lalu apa yang dilakukan?.
Iapun akhirnya menelephone sang ibu,di ujung telephone ia menyampaikan sebuah pengakuan paling jujur dari hati sanubari terdalamnya,bahwa ia sering mengambil uang ibunya secara diam-diam lantas meminta maaf. Setelah mendengar pengakuan jujur tersebut, dari seberang sang ibu bilang, aku udah maafin nduk. Mudah-mudahan, isterimu penyakitnya diangkat oleh Allah.
Setelah panggilan telephone diakhiri, tubuh sang isteri kembali berangsur pulih, hingga akhirnya berdasar diagnosa dokter kangker yang di idap oleh sang isteri yang tadinya sudah stadium 4 dengan izin Allah berangsur punah. Hingga akhirnya, bisa beraktifitas lagi seperti sedia kala.
Hal lain, adalah mengenai tawassul. Yaitu, meminta kepada Allah dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat. Salah satu hal yang beliau ceritakan adalah tentang mahalnya sebuah kentut. Dan ini, adalah pengalaman peribadi beliau. Kebetulan, beliau habis menjalani operasi usus buntu. Sudah menjadi kelaziman, bahwa seorang yang akan menjalani operasi harus puasa. Setelah operasi, harus nunggu kentut dulu baru boleh melakukan kegiatan makan minum.
Setelah beberapa jam pasca operasi, pak Samat menunggu kapan ia akan buang angin. Namun, waktu tersebut tak kunjung tiba. Maka, berdoalah beliau dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan yang ia lakukan bersama keluarganya. Namun, momen yang tepat tersebut, tibanya berbarengan dengan waktu magrib dan saat adzan di masjid beliaupun buang angin dan boleh berbuka. Cerita ini, beliau sampaikan saat mengisi pengajian dengan materi tentang Tawassul.
Sepulang penulis dari sekolah, penulis mencoba untuk searching dalil tentang tawassul dan ternyata jrengjrengjreng, haditsnya sahih dan ada kisahnya. Yaitu, kisah tentang 3 orang pemuda yang kehujanan dan bersembunyi di dalam guwa. Saat hujan, tanah pun longsor. Akhirnya, mulut guwapun dijatuhi batu besar. Setelah hujan reda, mereka berniat meninggalkan guwa namun terhalang oleh batu.
Salah satu dari mereka berujar, mari kita berdoa kepada Allah, dengan coba mengingat kebaikan yang kita pernah lakukan. Maka pemuda pertama berdoa, Ya Allah saya ini penggembala kambing. Saya punya seorang isteri, punya anak, dan masih punya 2 orang tua yang telah udzur.
Setiap saya pulang, saya selalu mendahulukan ke2 orang tua saya untuk saya minumkan susu. Kalau ia masih tidur, maka saya tunggui mereka sampai bangun. Setelah itu, baru makanan saya berikan ke isteri dan anak saya meski mereka telah lapar. Jika kebaikan ini saya engkau anggap ikhlas lillahi taala maka semoga dengan izinmu maka batu ini bergeser. Dan akhirnya, batupun bergeser.
Walau begitu, mereka masih terperangkap dalam guwa. Lalu, lelaki ke2 berdoa, Ya Allah saya pernah jatuh cinta kepada sepupu perempuan saya. Namun, ia menolak cinta saya. Hingga akhirnya, ia ke rumah meminjam uang, tapi syaratnya ia harus bersedia untuk saya zinahi. Ketika saya telah siap menggaulinya, tetiba ia berkata wahai hamba Allah, janganlah engkau menggauliku sebelum menghalalkanku. Dan hal itu, urung aku lakukan. Jika kebaikan dengan meninggalkan zina engkau anggap saya ikhlas maka dengan izinmu pindahkanlah batu ini. Dan akhirnya, batupun bergeser.
Namun, batupun bergeser tapi masih menutupi guwa. Dan pemuda ke3 pun berdoa, Ya allah, saya pernah memiliki budak, tapi haknya selalu saya korupsi. Tapi, kemudian saya kembalikan.
Itupun juga, saya kembalikan setelah ia datang menagi saya. Jika hal tersebut kau anggap saya ikhlas, maka geserlah batu ini atas izinmu. Maka, dengan izin Allah, batupun bergeser dari mulut guwa dan ke3 pemuda tersebut dengan izin Allah boleh keluar dari guwa. Bagaimana kaitan dengan penulis?.
Na! Kejadiannya adalah jelang kelahiran putra pertama penulis. Malam itu, sang isteri sudah kesakitan, namun belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Jelang subuh, penulis masuk ke kamar bersalin menemui sang isteri. Penulis menemui isteri yang sudah semakin lemah dan kesakitan, maka teringatlah penulis akan ceramah ustadz samat dari Mushallah Husnul khatimah 22 tahun silam saat masih SMU yang membahas tentang tawassul dengan menyebut kebaikan di hadapan Allah.
Lalu, penulis mengambil segelas air dan membaca doa dengan menyebutkan semua kebaikan sang isteri Ya allah, selama saya menikah isteri saya selalu menyiapkan sarapan untuk saya, menyiapkan baju kerja untuk saya sebelum berangkat kerja, menyiapkan kopi untuk saya tiap pagi dan sore, serta memenuhi segala kebutuhan saya ya allah. Jika engkau anggap baktinya kepada saya sebagai suami adalah bentuk ketaatannya kepadamu, maka mudahkanlah proses persalinan isteri saya☹. Setelah itu, penulis membawa air tersebut ke ruang bersalin dan meminumkan ke isteri.
Akhirnya, dengan izin Allah, isteri penulis hanya 3 kali berkuat dan dengan perkenan Allah ta’ala anak kami lahir dengan selamat. Itulah, ilmu yang penulis ingat selama belajar pada ustadz Abdul samat lewat pengajian beliau, baik di Mushallah, maupun di IPA1. Semoga, allah berikan, kesehatan.
Komentar
Posting Komentar