Dari mana datangnya nilai islam yang berdampak pada hidup dan kehidupanku kini?
Oleh:Sujono said
Secara sosiologis, pembentukan keperibadian termasuk penanaman nilai dalam hal ini nilai islam (Islamik falue) tentu berawal dari keluarga. Itulah sebabnya, ibu dan ayah dijuluki sebagai madrasatul uwla. Pembentukan keperibadian terdiri atas imitasi yaitu meniru, sosialisasi dalam hal ini terjadi proses pembentukan keperibadian, dan bersiap menerima norma. Tapi, kita tidak akan membahas ini lebih dalam. Penulis, hanya mengawali tulisan ini sebagai pembuka.
Syukur al-hamdulillah, karena penulis terlahir dari keluarga yang taat agama. Mulai dari Kakek dan nenek, om dan tante, hingga papa dan mama yang relegious. Ketika penulis berada di rumah Dato’ Ti’no’, penulis sering ikut beliau ke Masjid. Ketika berada di rumah bersama mama dan papa, penulis ikut beliau ber2 melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan, mama mengajarkan penulis bacaan shalat.
Dari ilustrasi ini, penulis melewati proses imitasi yaitu menirukan gerakan shalat yang penulis bisa tiru sebagai tunanetra, kemudian ada proses sosialisasi dimana penulis belajar secara utuh tentang gerakan shalat dan bacaannya. Setelah fondasi shalat baik, penulis belajar tentang nilai-nilai kejujuran dan birrul-walidain dari papa dan mama lewat berbagai kisah para nabi dan rasul.
Selebihnya, penulis sering mendengarkan ceramah agama dari KH Zainuddin MZ lewat siaran radio. Dari sanalah pemahaman penulis akan ilmu agama bertambah. Lewat ceramah beliau walau disampaikan dengan gaya yang jenaka, penulis banyak mendapatkan pelajaran yang amat berarti.
Lewat ceramah beliau, penulis belajar bagaimana keteguhan seorang imam nawawi yang rela diusir oleh penguasa namun karena sang penguasa amarahnya telah reda, namun mengakui kesalahannya dan membenarkan pendapat imam nawawi, mengirim utusan ke tempat tinggal beliau. Namun, karena konsistensi beliau sehingga ia tak mau lagi kembali ke kota menjalankan tugasnya.
Hal lain yang penulis peroleh dari ceramah KH Zainuddin MZ, adalah bagaimana seorang pemimpin berperilaku kepada salah satu keluarganya. Suatu malam, ada seorang keluarga salah satu khalifah datang menemui sang khalifah. Namun, karena sang khalifah sedang mengerjakan urusan ummat, sehingga lampu minyak yang menyala adalah lampu yang orang selayar istilahkan lampu strongking. Lampu yang dipompa dan nyalanya seperti lampu listrik. Akhirnya, sang halifah bertanya mau bicara keummatan atau pribadi?. Yang bersangkutan menjawab masalah peribadi.
Akhirnya, amirul mukminin mengatakan padamkan lampu minyak yang terang ini, lalu nyalakan lampu minyak untuk penerangan seadanya. Kasihan, kalau terjadi pemborosan, kasihan ummat dalam hal ini kaum muslimin mengumpulkan hasil keringat mereka di baitul mal tapi disia-siakan. Kaitannya dengan itu, adalah hal yang kegunaannya untuk peribadi harus dipisahkan dari hal yang kegunaannya untuk ummat. Pun juga dengan modal usaha, pisahkan dari uang pribadi kalau kaitannya dengan hari ini. Tapi, bagi penulis itu bagaimana menggunakan wewenang memakai fasilitas.
Kedua, tokoh yang penulis sering memperoleh pengetahuan agama adalah KH Bakri wahid lewat siaran sahur dengan beberapa orang pemandu. Mulai dari Pak kiai dan daeng naba, daeng bani, dan daeng eman. Lewat siaran sahur yang pertanyaannya diajukan lewat surat oleh para pendengar RRI Makassar. Namun, ketika penulis telah berada di Yapti, penulis sering mendengar ceramah beliau lewat radio al-markas. Ada banyak yang beliau bahas. Mulai dari urusan nikah, hingga penyelenggaraan jenazah. Dari beliau, penulis tahu tentang bagaimana ijab qabulnya nikah kontrak😊.
Tapi, bukan cuman ijab qabulnya nikah kontrak doang yang orang kenal dengan istilah nikah mut’ah. Tapi, segala hal kaitannya dengan pernikahan seperti apa saja yang membuat pernikahan sah secara agama, apa saja yang membuat pernikahan batal dan masih banyak lagi. Kemudian, siapa saja yang boleh menjadi wali nikah dalam keluarga seorang anak perempuan serta tata cara penyerahan perwalian jika dalam kondisi tertentu wali nikah tidak, dapat melaksanakan wewenangnya.
Ketiga, yaitu KH DRS Muhammad Na’iiiiiiiim. Beliau, adalah ulama terkenal dan juga merupakan ketua Yayasan pendidikan tunanetra Islam yang berubah nama menjadi yayasan pendidikan tunanetra Indonesia, dan kini berganti menjadi yayasan pembinaan tunanetra Indonesia (YAPTI) sejak 1986 sampai 2006. Penulis, dan beberapa binaan lain sering ikut beliau kemanapun.
Lewat keikut sertaan penulis and friend kemanapun beliau pergi bahkan ketika di mobil beliau sering menyampaikan nasihat-nasihat agama. Termasuk meluruskan pemahaman tentang jumlah jamaah shalat jumat. Dalam literatur yang sering penulis pelajari, jamaah shalat jumat harus sekurang-kurangnya 40 orang. Pak Naiiiiiiim menjelaskan yang sebenarnya. Lalu? Seperti apa?.
Yang disampaikan pak Naiiiiiim adalah seperti ini, 5 orang saja sudah cukup. Kalau sudah ada imam, sudah ada khatib, sudah ada muazzin, dan juga jamaah. Maka, shalat jumat sudah boleh kita laksanakan. Itu, adalah salah satu hal yang penulis peroleh dari beliau. Namun, banyak yang lupa.
Ada banyak sebenarnya guru spritual penulis, belum lagi ilmu agama yang penulis pelajari dari berbagai sumber bacaan yang tidak mungkin penulis share di sini karena sesuatu dan lain hal. Biarlah, semua itu akan penulis kupas tuntas lewat tulisan tentu dengan judul yang berbeda pula insya, allah.
Komentar
Posting Komentar