Gelas beralas masuk ruang kelas
Oleh:Sujono said
12 Tahun yang lalu, ketika baru meniti karier sebagai guru penulis baru menyelesaikan studi strata1. Sehingga, penulis masuk sebagai guru dengan status bujang. Kalau status di lembaga, ya guru tetap yayasan (GTY) bukan KYT😊. Walaupun penulis memiliki jabatan melekat sebagai guru, tapi penulis tetaplah seorang anak muda yang agak risih mendapatkan serfice excelence dari siswa.
Apa itu bentuk serfice excelence yang penulis peroleh? Yaitu, ketika penulis mengajar dan belum sempat minum kopi di rumah, penulis minta dibuatkan oleh siswa. Tapi, penulis minta agar gelas tak usah dialas. Mengapa demikian? Karena, penulis merasa masih anak muda alias bujang kala itu.
Sementara, siswa yang penulis ajar seumuran bahkan lebih tua dari penulis. Itulah uniknya SLB, terlebih siswa yang penulis ajar adalah tunanetra yang rata-rata sudah dewasa baru bersekolah karena baru berkesempatan keluar rumah. Apakah kini masih menerima siswa tunanetra sebagaimana penulis jelaskan diatas?. Itulah, yang membuat penulis merasa risih diperlakukan demikian.
Mereka, punya pertimbangan etik. Sebagaimana, ajaran orang tua mereka ketika mereka masih di kampung bahwa ketika kita menjamu tamu semua harus dialas. Sementara, penulis sebagai guru ingin melakukan pendekatan yang berbeda kepada mereka tanpa menodai derajat, harkat, dan martabat penulis sebagai seorang pendidik. Syukur al-hamdulillah, mereka mengerti isi hati penulis.
Ada salah satu permintaan penulis yang menurut mereka awalnya agak aneh, yaitu tidak usah pakai gelas kaca atau cangkir ketika penulis minta dibuatkan kopi oleh siswa. Cukuplah dengan gelas plastik, dengan pertimbangan nanti pecah dalam kelas. Alasan lain, adalah karena penulis belum menikah, sehingga penulis tidak mau menggunakan gelas kaca saat minta dibuatkan kopi oleh siswa.
Itulah, yang penulis sempat jelaskan sebagai catatan reflektif penulis terkait kemurahan hati dari para siswa penulis sebagai guru sejak berkarier 12 tahun lalu hingga saat ini. Penulis bukan ingin mencitrakan diri sebagai guru yang dekat dengan siswa, melainkan penulis sebagai seorang yang masih berstatus bujang merasa tidak pantas diperlakui demikian. Walaupun, ada jabatan yang melekat.
Jika mengingat hal tersebut, penulis bersyukur kepada Allah, karena penulis dipertemukan dengan mereka-mereka yang telah mewarnai hidup dan kehidupan penulis. Semoga, Allah berikan mereka kesehatan, kesuksesan, keluarga bahagia, dan segala doa terbaik dari penulis buat mereka.
Komentar
Posting Komentar