Hijrah dari makassar ke kendari hanya membawa integrity dan loyality

Oleh:Sujono said

Bagi penulis, integrity dan loyality terbangun bukan karena penulis bergantung pada profesi yang digeluti. Melainkan, terbangun atas cinta dan bahagia atas apa yang penulis tekuni sejak 12 tahun silam. Ke2 nya penulis tanamkan bukan untuk person leader semata, melainkan untuk lembaga serta organ-organ yang ada di dalamnya utamanya siswa dan orang tuanya serta masyarakat sekitar.
Bagi penulis, kalau ke2 hal sebagaimana penulis jelaskan diatas terbangun atas landasan cinta dan kebahagiaan, maka sudah barang tentu loyality kita pasti mengarah pada person leader dan institusi. Terlebih, jika person leader, rekan sejawat, dan lingkungan kerja kita mendukung.
Tapi, walau person leader mendukung, namun rekan sejawat sebagai bagian dari lingkungan kerja tidak mendukung kita secara penuh, maka tidak akan ada artinya, nol besar. Penulis teringat, ada sebuah momen yang membuat diri ini eel fill oleh statemen salah satu rekan sejawat yang dilontarkan di ujung telephone bukan di ujung malam ya😊. Lantaran penulis sering diberdayakan oleh person leader karena skill yang penulis miliki, dan boleh dikata penulis selalu terkesan melekat pada person leader, maka penulis disebut sebagai anak emas suaminya anak embak😊 dari mR person leader.
Bunyinya begini, pak! Tolong komunikasikan anu ono, dan seterusnya. Kan kita, orang dekatnya ketua yayasan. Hingga akhirnya, penulis sangat marah kepada yang bersangkutan. Karena, penulis merasa sama dengan lainnya. Bukan sebagai anak mas dan mbaknya ketua yayasan😊. Itulah, penajaman dari yang penulis jelaskan. Artinya, oleh person leader senang dengan penulis.
Sehingga, sang person leader memberdayakan penulis. Sedangkan, setelah penulis tiba di sekolah yang saat ini penulis tempati di kota kendari, penulis merasa memiliki trauma yang mendalam. Karena, jangan sampai kita berbuat kita dianggap cari muka, padahal muka kita lengketnya bagus.
Sebagai mana dalam 2 paragraf terdahulu, penulis menjelaskan bahwa walau person leader mendukung tapi rekan sejawat ogah-ogahan, tak ada guna. Itulah yang penulis alami di tempat yang sekarang ini, dimana person leader menaruh harapan agar apa yang baik dan pernah diterapkan di Makassar diterapkan juga di sekolah yang beliau pimpin. Tapi, bagi penulis itu mustahil.
Mengapa? Karena, jangan sampai penulis melakukan ide-ide brilian dan terkesan memonopoli. Sementara, sebahagian kawanua penulis itu gimana tak dapat kugambarkan dengan kata-kata. Sehingga, suka tak suka penulis harus mengikuti ritme mereka, daripada penulis pusing.
Sehingga, tatkala mereka nongkrong di koridor. Penulis, lebih memilih minum kopi di dapur rujab penjaga sekolah😊. Sementara, di sisi lain sang person leader sering bilang ke penulis dengan kalimat seperti ini “Jono! Saya tahu kamu itu dari Yapti, Yapti itu saya tahu betul. Karena, 20 tahun lalu saya pernah 10 hari di sana. Tapi, ternyata sampai di sini kamu tidak seperti yang seharusnya.”
Dari sanubari terdalam, penulis harus melakukan hal tersebut. Namun, realita yang penulis hadapi berbeda jauh. Berbeda, ketika sang person leader yang juga merangkap sebagai ibu tercinta yang kini telah menghadap Allah waktu beliau masih ada. Andai beliau masih hidup, pasti tidak mati😊 eh salah. Penulis dan kawanua lainnya memiliki idol leader(pemimpin idola). Tapi, ya sudahlah.
Leader idol boleh pergi menghadap Allah, namun, integrity dan loyality yang penulis bawa dari Makassar tidak akan ikut pergi. Karena, integrity dan loyaliti menjadi guidence bagi penulis tentang mana yang boleh dan tidak, mana yang patut dan tidak, serta mana yang harus dilakukan dan dihindari.
Contoh nyata, adalah ketika penulis baru pindah ke kendari. Suatu hari, penulis terima telephone dari salah satu kawan di Makassar. Setelah obrolan berakhir, ternyata sudah lewat setengah jam. Sehingga, kepada penjaga sekolah penulis minta agar keterangan untuk kehadiran penulis dikasi T atau terlambat. Saat kepala sekolah memeriksa absensi, kepala sekolah terhenyak,  melihat absen.
Iapun memanggil sang penjaga sekolah dengan logat khas jawa Agus, kenapa pak Jono dikasi T? Dia sendiri bu yang minta, jawab sang penjaga sekolah. Akhirnya, penulis turun sendiri menyelesaikan kemelut ini dan menjelaskan kalau penulis terlambat 30 menit masuk kelas karena harus menerima telephone. Bagi penulis, yang dihitung adalah kehadiran di kelas, bukan kehadiran di area sekolah.
Sebagaimana, penulis dihadapan rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala sekolah ketika masih bertugas di Makassar. Penulis bilang begini, bu kepsek! Tabe. Walaupun saya hadir di area sekolah tapi kalau saya pakai sarung dan kaos oblong jangan di kasi hadir tetap dihitung alfa.
Karena, saya tidak mau lantaran saya tinggal di sini selalu dikasi hadir. Karena, bagi sayabu kehadiran adalah ketika melaksanakan tugas dengan atribut yang layak. Ujar penulis di hadapan kepala sekolah dan dewan guru yang mulia di SLB Yukartuni 6 tahun silam dalam rapat efaluasi akhir smester.
Itulah 2 modal berharga yang penulis bawa ke bumi anoa yaitu integrity dan loyality. Integrity, adalah prinsip hidup. Sedangkan loyality yang akar katanya loyal yang berarti setia, tapi penulis lebih menganggap itu sebagai bertanggung jawab(responsible). Loyal, bukan berarti bagaimana kita menyenangkan hati MR person leader. Tapi, berani berbicara apa adanya, ketika ada hal yang tidak sesuai prinsip kepada person leader. Semoga, 2 modal besar ini terbawa hingga penulis,  pensiun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menutup lembaran kelam

Napaktilas PPG

Memanfaatkan keaktifan sikecil