Bukan munasentris tapi ada ikatan emosional

Oleh:Sujono said

Sejak 3 tahun terakhir, bahkan beberapa bulan ini penulis suka memutar lagu-lagu daerah muna melalui youtube. Kalau dulu, tepatnya 2017 akhir, hanya suka dengan 1 lagu muna karena penulis suka dengan ilustrasi musik dan cara sang penyanyi membawakannya walau tak tahu artinya.
Karena suka dengan ilustrasi musik dan lirik serta cara membawakan, penulis mencari apa meaning dan apa cerita di balik lagu tersebut. Lalu, apa judulnya? Lagu tersebut, berjudul ina koemo mogae yang jika diartikan adalah mama usahlah menangis. Lagu ini, bercerita tentang mama.
Tentang seorang anak yang ditinggal pergi oleh ayahnya tanpa perna tahu wajah sang ayah. Dan dibagian refrem lagu tersebut ada sebuah kalimat yang menyentuh hati yang bunyinya seperti ini “ Koemo mogae ina, tasabaramo ina,tarunsamoidi anamu, tarunsamoidi anamu sodhumaghaniko. Nohala bara inaku ompu, ako dosabara inodi ini. Koemo siksa inaku, koemo siksa inodi, ampuni kanau dosaku.”. Yang jika dimaknai, adalah menguatkan sang bunda, agar tidak risau menghadapi masa sulit.
Selain itu, utamanya pada refrem bagian ke2 jika dimaknai adalah sang anak bertanya kepada tuhan apa salah sang bunda, serta dosa yang ia lakukan sembari meminta kepada tuhan agar jangan menyiksa sang ibu dan juga jangan menyiksa dirinya serta memohon ampun atas segala dosa dan khilafnya. Sejak itu, penulis semakin suka dengan lagu ini dan mempelajari musiknya, bahkan siswa dari tanah muna yang belajar di Makassar dan saat tulisan ini disusun, telah menjadi isteri penulis sempat menyanyikan lagu muna yang berjudul ina koemo mogae dan diiringi oleh penulis pada momen hari disabilitas di istana balla’lompoa kabupaten gowa sekitar bulan desember 2017 silam.
Hampir semua daerah, jika kita mendengar lagu tentang orang tua utamanya ibu, pasti membuat hatikita terenyuh. Contoh, seperti Makassar yang punya lagu Anrongku allasukangku by ridwan sau’, atau ambon yang punya lagu sio mama, pasti akan membuat kita ingat akan pengorbanan sang bunda yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan kita. Terlebih, dalam lirik lagu sio mama ada terselip permintaan sang anak kepada tuhan, agar selalu menjaga sang bunda tercinta.
Lantaran penulis telah 3 tahun menikah dengan siswa asal witenowuna(tanah muna) ini dan juga 4 tahun sudah bertugas di sulawesi tenggara, semakin familiarlah penulis dengan lagu muna. Baik yang dinyanyikan di acara hajatan yang penulis hadiri, maupun yang sering di putar oleh isteri di rumah. Maka, penulis makin jatuh hati. Walaupun, penulis hanya mampu berbahasa muna secara pasif😊.
Walau demikian, hal tersebut tidak mengurangi kecintaan penulis pada lagu daerah tempat dimana penulis di lahirkan yaitu lagu daerah Makassar dan bugis. Karena, di provinsi tempat kelahiran penulis juga punya lagu daerah dan penyanyi daerah yang high quality sebagaimana yang ada di tanah muna. Tentu, kita semua punya lagu daerah yang mengajarkan agar kita tidak lupa dengan tanah kelahiran kita. Sebagaimana, kita di Makassar punya lagu daerah berjudul sulawesi pa’rasanganta dan butta kalassukangku. Yang mana, ke2 lagu ini mengajarkan agar tidak lupa akan daerah asal.
Ada juga, sebuah lagu daerah bugis yang berjudul Tana ogi wanuakku. Dalam lagu tersebut, terselip sebuah ikrar bagi perantau yang penggalannya kurang lebih berbunyi “Iapa urewe’ mattana ogi uruntupi usappae”. Yang artinya kurang lebih, saya tidak akan pulang sebelum saya menemukan apa yang saya cari. Ikrar tersebut, tentulah maknanya agak dalam dan menegaskan kesungguhan.
Jadi, back to the topic! Terserah, mau topik safalas atau taufik ismail😊. Tapi, intinya penulis suka dengan lagu daerah muna karena ilustrasi musiknya sebagaimana lagu daerah lain seperti Makassar, toraja, bugis, mandar, dan lagu daerah lain seperti Manado dan ambon.
Selain itu, penulis juga punya ikatan sejarah dengan tanah muna. Karena, sebagaimana kita semua tahu bersama bahwa di sanalah penulis membuktikan diri sebagai lelaki selayar yang kesatria dan bertanggung,  jawab untuk menerima amanah lewat sebuah janji suci yang disaksikan oleh 2 keluarga, pihak pemerintah, dan tokoh adat lewat sebuah lembaga yaitu,  pernikahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menutup lembaran kelam

Napaktilas PPG

Memanfaatkan keaktifan sikecil