Daeng layu pahlawan bagi mahasiswa rantau
Oleh:Sujono said
Sudah lama penulis ingin menulis tentang pahlawan bagi mahasiswa rantau. Betapa tidak, berdasar cerita dan fakta yang penulis alami seperti itulah yang kita kenal tentang sosok daeng layu.
Betapa tidak, ketika kantong telah menipis, dan tanggal mulai menua. Maka, sebagai mahasiswa rantau kita harus memilih jalan yang terjal nan berliku yaitu menghutang makanan. Agar kita tetap survive menjalani perkuliahan hingga selesai tepat waktu sebagaimana harapan ayah bunda.
Bersyukur, kita punya penjaga rumah kost yang mau menghutangi kita mulai dari nasi, sayur, lauk pauk, hingga segelas kopi😊. Dan tidak tanggung-tanggung, karena ada yang sampai 500000.
Bagi yang pandai bersyukur dan tahu berterimakasih, tanpa melebihkan apatah lagi mengkultuskan sosok daeng layu adalah penolong bagi kita. Andai tak ada beliau, mungkin ada yang sudah harus meninggalkan gelanggang dengan status DO(drop out). Atau, mungkin ada yang pulang kampung tinggal jasad dan cerita-cerita pedih, lantaran harus memenuhi tuntutan menyelesaikan studi tepat waktu yaitu 8 semester. Tapi, ada juga yang melupakan dan meninggalkan beliau.
Walau demikian, dibalik semua itu banyak testimony dari orang tua mahasiswa. Mereka, mengucapkan terimakasih dengan cara yang beragam. Salah satu testimoni yang penulis ingat adalah seperti ini, oh kitami yang dibilang daeng layu?. Ie bu, sayami daeng layu. Oh kasihan, andai kata tidak ada kita kasihan mungkin setengah matimi anakku di sini☹. Biasa, anakku cerita kita ke saya kodong.
Nabilangi anakku, itu daeng layu jangankan hutang makanan, pinjam uang saja kasian dipinjamiki. Tapi, anakta bu kasian kalau ada napinjam begitu kasian nakasi kembaliji kodong, katakutki sama kita bede’, nanti kimarahii ujar daeng Layu kepada sang orang tua mahasiswa saat memberikan testimony kepada daeng layu kala itu. Ie kodong daeng layu, semoga sehakki na banya rejekita.
Bagi penulis, daeng layu adalah orang tua ke2. Dan penulis menyaksikan sendiri, banyak mahasiswa yang selalu ngumpul bersama dengan beliau. Terakhir, adalah mahasiswa yang dari ternate yang juga sealmamater dengan penulis. Mereka, selalu ngumpul dengan kami, saat selesai shalat magrib. Lantaran, secara kebetulan penulis juga sedang bersantap malam di daeng layu dengan menyantap indomi goreng. Di momen-momen seperti itulah kami berkumpul dan saling menguatkan.
Dan kini, mereka yang dulu banyak menghutang ke daeng layu, telah menemukan jalan hidupnya. Ada yang menjadi ASN, mungkin ada yang sudah bekerja jadi karyawan swasta, atau mungkin ada yang telah menikah dengan lelaki tampan, mapan, dan bertanggung jawab.
Tapi, dibalik semua itu kita tidak boleh melupakan jasa seorang daeng layu. Seorang penjual nasi kuning, makanan jadi, mi siram, dan kopi dengan kondisi ekonominya yang terbatas mampu menghutangi puluhan mahasiswa dengan angka yang fantastis, mulai dari 500000 hingga 1000000.
Setiap kali penulis teringat akan daeng layu, selalu penulis sisipkan doa untuk beliau. Dengan harapan, semoga beliau selalu sehat, rezekinya berlimpah, serta senantiasa dalam lindungan Allah. Daeng layu, namamu boleh layu, tapi kebaikanmu akan selalu mekar di hatikami sebagaimana mekarnya bunga sakura di Jepang. Atau, bunga edelways di malino. Itulah, harapan dari kami.
Komentar
Posting Komentar